Beranda Warganet 426 hektar hutan di Cagar Alam Maninjau telah dibuka untuk perkebunan.

426 hektar hutan di Cagar Alam Maninjau telah dibuka untuk perkebunan.

Lyubuk Basung (ANTARA) – Sekitar 426 hektare kawasan hutan Suaka Margasatwa Maninjau di kawasan Lyubukbasung, Agam Regensi, Sumatera Barat, dihuni perkebunan sawit, kopi, karet, manggis, dan lainnya.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agama, Ade Putra di Lubukbasung, Jumat mengatakan, kawasan itu digunakan untuk perkebunan sawit sekitar 60 hektar, kopi belasan hektar, karet tiga hektar, dan lain-lain.

“Khusus kelapa sawit, semuanya dipanen antara usia lima hingga 10 tahun,” katanya.

Penduduk yang tidak bertanggung jawab telah menginvasi wilayah Hutan Lindung setidaknya selama 10 tahun terakhir.

Pada Kamis (7 Agustus), KSDA Resort Agam bekerja sama dengan Bareskrim Polres Agam melakukan pemeriksaan terhadap properti untuk mengumpulkan bahan dan informasi sebagai dasar penyelidikan lebih lanjut.

Di lokasi ini, tim menemukan perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, dan lainnya yang sudah mulai berbuah.

“Tim gabungan masih mendata pemilik kebun di kawasan hutan suaka dan siapa saja yang terlibat,” katanya.

Sebelumnya, gabungan BKSDA Sumbar, Polres Agam, Kodim 0304 Agam, Polhut Agam dan lain-lain memimpin pabrik pada 2014.

Kemudian tim gabungan dicegat dan ditolak warga.

“Akibat penolakan ini, penertiban ditunda, namun kami tetap melakukan patroli, memasang rambu dan rambu peringatan di tempat,” katanya.

Kawasan hutan Cagar Alam Maninjau Utara-Selatan seluas 21.891,78 hektar yang terbentang antara Agam Regensi dan Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Penetapan kawasan ini berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia Nomor 422/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 35 / Menhut. -II/2013 tanggal 15 Januari 2013

Cagar alam adalah wilayah cagar alam, karena dalam keadaan alaminya tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi bersifat unik, dan perkembangannya terjadi secara alami.

Kawasan cagar alam memiliki fungsi utama sebagai kawasan konservasi keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta kawasan sistem penyangga kehidupan.

Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat digunakan untuk penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan penunjang budidaya.

Sedangkan beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengubah fungsi cagar alam, antara lain berburu satwa yang ada di kawasan, memasukkan tumbuhan dan satwa bukan asli ke kawasan, penebangan, perusakan, pemindahan, penebangan, dan lain-lain. Dan perusakan tumbuhan dan hewan di daerah tersebut. dan seterusnya, menggali atau menggali lubang di dalam tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa di kawasan tersebut, atau mengubah bentang alam yang mengganggu atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa. *

Artikel sebelumya1.183 tenaga medis di Indonesia meninggal karena COVID-19
Artikel berikutnyaKapolres Jambi Minta Pelaku Usaha Ikuti Aturan PPKM Mikro