Beranda Trending Bagaimana Iva K dan Kunto Aji Menghargai Perbedaan dan Mencintai Indonesia

Bagaimana Iva K dan Kunto Aji Menghargai Perbedaan dan Mencintai Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Sejumlah musisi Indonesia yakni penyanyi, rap Iva K., Tuan Tygabelas, Kill The DJ dan penyanyi solo Kunto Aji berbagi cerita tentang kecintaan mereka pada budaya Indonesia dan bagaimana mereka menghargai perbedaan seperti “Bhinneka Tunggal Ika”.

Bagi Iwa K, bekerja sama dengan musisi lain dari genre yang berbeda itu menyenangkan. Seperti diketahui, empat musisi baru saja merilis “Become Indonesia” hari ini.

Selain bisa berkolaborasi, Yva K. menambahkan, ia juga bisa mengenali keunikan dan karakter musik setiap orang.

“Kerja sama selalu menarik. Itu bisa membuat saya keluar dari rutinitas karena saya bisa mengenal musisi dengan kemampuan musiknya masing-masing,” kata Iva K. dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

“Selain itu, bukan hanya musiknya saja, tapi ada energi lain yang bisa mendorong kita semua untuk menulis lirik dan lain-lain, untuk mengatakan bahwa kita bangga menjadi orang Indonesia di lagu ini,” tambahnya.

Bunuh DJ juga setuju. Baginya, kolaborasi juga merupakan kesempatan untuk saling menghargai, sekaligus mempelajari sesuatu yang baru tentang musik dan kepribadian.

“Dengan berkolaborasi, kita tidak bisa menang sendirian, kita harus mau memberi ruang kepada orang lain, terbuka untuk diskusi dan terbuka untuk ide. Kami juga belajar banyak di sana, tidak hanya musik dan seni, tetapi juga tentang karakter orang, dan itu sangat menyenangkan dalam prosesnya, ”katanya.

Meski sudah keliling dunia, pria bernama asli Marzuki Mohamad ini mengatakan Indonesia tetap tempat untuk kembali. “Meskipun saya telah berkeliling dunia, ternyata Indonesia masih menjadi tempat saya pergi, selalu ada perasaan cinta yang membawa saya kembali,” katanya.

Di sisi lain, Pak Tigabelas berbagi cerita di balik penciptaan lagu “Menjadi Indonesia” yang juga ditulis oleh Iga Massardi “Bara Suara”. Pria yang akrab disapa Upi ini menuturkan, penulisan naskah tersebut hanya memakan waktu satu hari.

Kata kunci lagu ini’perbedaan‘, dan ternyata setiap orang melihat sesuatu secara berbeda. Berbeda tapi saling melengkapi bersatudia berkata.

Kunto Aji menambahkan, “Inspirasi datang dari lirik mereka. Saya langsung senang dengan hasilnya.

Artikel sebelumyaPemerintah mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya melalui konten kreatif
Artikel berikutnyaFirli berharap Rupbasan Kawang tetap menjaga nilai barang sitaan