Beranda Nusantara BKSDA: Tiga harimau terlihat di perkebunan lokal di Aceh

BKSDA: Tiga harimau terlihat di perkebunan lokal di Aceh

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Perlindungan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melaporkan tiga ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berada di dekat perkebunan rakyat di Kabupaten Aceh Selatan.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Kamis, mengatakan keberadaan harimau di sekitar perkebunan rakyat sudah terpantau sejak awal Oktober 2021.

“Lokasi harimau berubah. Upaya penahanan terus dilakukan antara lain dengan mendatangkan pelatih dan memasang kandang perangkap,” kata Agus Arianto.

Menurut Agus Arianto, keberadaan harimau tersebut dilacak menggunakan kamera tersembunyi (trap). Harimau sumatera terdapat di Kabupaten Aceh Selatan, antara lain Desa Seulakat dan Simpang, Kecamatan Bakonggan Timur, serta Desa Krueng Bati, Gunung Kapho dan Panton Bili di Kecamatan Trumon Timur.

Pada akhir Oktober tahun lalu, dilaporkan bahwa seekor harimau sumatera telah terlihat di objek wisata Sigantang Sira di Gunung Kapoor, Kabupaten Trumon. Menurut laporan, tim gabungan tiba di objek wisata untuk percepatan.

“Upaya menakut-nakuti satwa yang dilindungi itu dilakukan dengan menggunakan senter. Namun, harimau itu malah mendekati sumber senter itu bukannya pergi,” kata Agus Arianto.

Kemudian pada 7 November, keberadaan harimau itu menjadi viral di desa Panton Bilu. Satwa yang dilindungi itu terlihat di jalan desa di area perkebunan dan telah direkam oleh beberapa orang.

Beberapa peristiwa tersebut menunjukkan perilaku di luar kondisi normal. Terlihat harimau tidak khawatir dengan keberadaan orang sekitar, – kata Agus Arianto.

“Melihat perilaku ini, tim memasang jebakan di Gunung Kafo dan satu orang masuk jebakan. Saat ini tim medis sedang memantau harimau tersebut,” kata Agus Arianto.

Menurut daftar hewan langka International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), hewan yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus sebagai spesies yang terancam punah dengan risiko kepunahan yang tinggi di alam liar. .

BKSDA Aceh mengajak masyarakat untuk bahu-membahu menjaga ketahanan khususnya harimau sumatera, tanpa merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa.

Dan jangan menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, menampung, mengangkut atau memperdagangkan hewan yang dilindungi, hidup atau mati.

Kemudian jangan memasang jerat, racun, pagar listrik bertegangan tinggi, yang dapat menyebabkan kematian satwa liar yang dilindungi. Segala perbuatan melawan hukum dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kegiatan ilegal lainnya juga dapat menimbulkan konflik antara satwa liar khususnya harimau sumatera dengan manusia. Konflik ini telah mengakibatkan kerugian ekonomi, baik manusia maupun satwa liar.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, pemangku kepentingan lainnya dan mitra yang mendukung penyelamatan harimau. Dukungan ini sebagai upaya pelestarian satwa yang dilindungi di Provinsi Aceh,” ujar Agus Arianto*.

Artikel sebelumyaRisma mengatakan banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencegah banjir di Kabupaten Asmat.
Artikel berikutnyaJawa Barat dan University of Nottingham berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan