Beranda Nusantara BMKG: Aceh memasuki transisi cuaca ke musim kemarau

BMKG: Aceh memasuki transisi cuaca ke musim kemarau

Aceh sudah memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, kemungkinan kebakaran harus diwaspadai.

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan Aceh memasuki masa transisi cuaca dari musim hujan ke musim kemarau, sehingga warga diminta mewaspadai potensi kebakaran.

“Kami melihat Aceh sudah memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, kami perlu memantau kemungkinan kebakaran,” kata Kepala Data dan Informasi Kelas I BMKG Sultan Iskandar Muda Aceh Besar Zakaria Ahmad di Banda. Ah, Selasa.

Ia menjelaskan kekhasan masa peralihan cuaca, antara lain cuaca yang berubah-ubah, kadang hujan, kadang cerah, kadang sebaliknya. Kemudian hujan tidak merata, angin kencang, kilat dan guntur.

“Cuaca yang tidak menentu ini juga dapat mempengaruhi kesehatan kita, sistem kekebalan tubuh kita sulit menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca karena panas, hujan tiba-tiba, kemungkinan flu, demam dan sebagainya,” kata Zakaria.

Oleh karena itu, kata Zakaria, warga diminta tidak hanya memperhatikan kondisi kesehatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang kebakaran rumah tangga, kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Beberapa wilayah di Tanah Renkong mengalami curah hujan yang tidak merata atau ringan hingga sedang dalam beberapa hari terakhir. Namun, ada juga daerah yang mengalami kekeringan sehingga mudah terjadi kebakaran, katanya.

“Seperti kemarin, ada kebakaran hutan di Aceh Singkil, Aceh Selatan, Subulussalam,” kata Zakaria.

Selain itu, lanjut Zakaria, BMKG juga mendeteksi 20 titik api di wilayah Aceh pada Selasa dengan tingkat kepercayaan sedang dari sensor satelit PLTN Terra, Aqua dan Suomi.

Titik panas tersebar di Kabupaten Trumont, Aceh Selatan sebanyak lima titik, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil lima titik, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil empat titik.

Kemudian Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam memiliki dua titik, satu titik Kecamatan Bakongan Timur, Aceh Selatan, satu titik Kecamatan Kota Baharu, Aceh Singkil, satu titik Kecamatan Lavealas, Aceh Tenggara, dan satu titik Kecamatan Rundeng Subulussalam.

“Titik panas ini berpotensi kebakaran hutan saat terjadi kemarau panjang, ketika hanya sedikit percikan api, sangat mudah untuk menyalakan api dan menyebar ke mana-mana,” katanya.

Artikel sebelumyaKomnas HAM Pansel berharap lebih banyak perempuan yang mendaftar sebagai komisioner
Artikel berikutnyaWakil Ketua DPR mengunjungi Pondok Pesantren Miftahul Khoyrot pasca kebakaran