Beranda Nusantara BMKG menyebut fenomena di Geneponto sebagai “jet air”

BMKG menyebut fenomena di Geneponto sebagai “jet air”

perubahan iklim adalah

Makassar (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wilayah IV. Makassar menyatakan bahwa video viral pusaran air yang terjadi di perairan Kabupaten Geneponto, Sulawesi Selatan itu menuangkan air atau saluran air.

“Jadi, kita perlu mencari tahu, kejadian ini lebih tepat disebut menuangkan air keluar. air Semburan adalah fenomena yang hampir sama dengan angin puting beliung, yang membedakan hanya terjadi di perairan,” kata peramal cuaca Makassar BMKG Agusmin saat ditemui di kantornya, Jumat.

Menurutnya, kejadiannya hampir sama dengan angin puting beliung, hanya saja bisa terjadi di laut atau di danau. Jadi kalau bisa spesial Menuangkan air itu terbentuk di dalam air. Yang pertama adalah awan Cb atau cumulonimbus yang didukung oleh beberapa faktor yaitu perbedaan, tekanan, suhu, suhu dan angin.

semburan air biasanya terbentuk oleh pertumbuhan awan cumulonimbus di atas air, yang didukung oleh perbedaan suhu, tekanan, dan angin, sehingga jika memungkinkan, terbentuk pusaran, seperti dalam video, ”jelasnya.

Namun, fenomena ini tidak selalu terjadi kecuali tiga elemen yang tercantum di atas dapat memungkinkan Menuangkan air. Peristiwa ini bisa terjadi lagi jika faktor pendukung memungkinkan. Pada dasarnya sama saja dengan badai jika terjadi di darat, bedanya di air.

“Tentu saja itu berbahaya. Jika kejadian seperti itu terjadi, sebaiknya dijauhi, terutama bagi mereka yang aktif di perairan, seperti nelayan dan lain-lain. Timbangannya micromassage tapi berbahaya,” ujarnya.

Peramal BMKG IV Makassar, Agusmin menunjukkan pengamatan pembentukan pusaran angin melalui layar monitor di kantornya, Jalan Prof. Basalama di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/6/2021). ANTARA/Darwin Fatir.

Terkait perubahan kondisi cuaca belakangan ini, sering terjadi hujan pada sore atau malam hari, kata Agusmin, saat ini musim kemarau telah memasuki wilayah Sulsel dan Sulbar.

Untuk kejadian seperti itu (Menuangkan air) biasanya tercipta pada saat peralihan musim kemarau akibat terbentuknya awan Cb. Namun, musim kemarau tidak selalu berarti curah hujan.

“Mungkin hujan, tetapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. BMKG biasanya mempertimbangkan satu basis (10 hari). Jika curah hujan di bawah 50 milimeter untuk ketiga kondisi dasar dan memenuhi kriteria di bawah 50 milimeter, ini disebut musim kemarau,” jelasnya.

Menurut BMKG pusat, musim kemarau telah dimulai. Yang penting, bagaimanapun, adalah bahwa musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan. Ketika datang ke perubahan iklim, katanya, insiden itu terlalu jauh.

“Memang perubahan iklim harus ada, hanya kita yang bisa merasakannya. Misalnya, jika kita kembali ke beberapa tahun, jika kita bercermin, akan ada perubahan tahun ini. Tapi itu bisa menjadi pengaruh peristiwa. menuangkan air itu karena perubahan iklim, karena pemanasan dan pasang surut, ”katanya.

Karena seringnya hujan, Agusmin menambahkan ada faktor yang mempengaruhi, seperti peningkatan massa angin akhir di Selat Makassar bagian selatan yang memanjang ke barat. Namun hal ini biasanya tidak berlangsung lama mengingat BMKG telah mengeluarkan status bahwa musim kemarau telah dimulai.

Artikel sebelumyaerupsi merapi, erupsi abu vulkanik di klaten
Artikel berikutnyaMenkominfo Imbau Penerima dan Penyelenggara Vaksinasi Lindungi Data Pribadi