Beranda Nusantara BNPB mengimbau Bolaang Mongondou untuk tetap waspada dan bersiap menghadapi gempa

BNPB mengimbau Bolaang Mongondou untuk tetap waspada dan bersiap menghadapi gempa

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga Bolaang Mongondou Selatan, Sulawesi Utara, untuk waspada dan waspada pascagempa 5,9 yang melanda Jumat pukul 20.31 WIB.

“Menanggapi terjadinya gempa bumi, masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan waspada. Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi terjadinya gempa bumi,” kata Pj Kepala Pusat Informasi dan Komunikasi BNPB. Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, Jumat malam.

Abdul mengatakan, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow, warga panik dan mengungsi saat gempa terjadi. BPBD setempat melaporkan bahwa gempa tersebut tidak memicu tsunami.

BPBD Kabupaten Bolaang Mongondou melaporkan, warga Kecamatan Bolaanguki Kabupaten Bolaang Mongodou Selatan, Provinsi Sulawesi Utara mengalami getaran ringan dengan durasi 3-5 detik.

Menyusul kejadian tersebut, BPBD setempat langsung berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani situasi di lapangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa berkekuatan M5.9 terkonsentrasi di 52 km barat daya wilayah Bolaang Uki, Bolaang Mongondwo Selatan, pada kedalaman 106 km. Pusat gempa berada di laut.

Koordinator Mitigasi Tsunami dan Gempa BMKG, Dr. Dariono mengatakan, guncangan dirasakan di Gorontalo, Cotamobagu, Bolaang Mongondo Timur, Bolaang Mongondo Selatan, Pohuwato dan Bona Bolango III – IV MMI, Luwuk III MMI, Taliabu II – III MMI dan Manado dan Chibawa II MMI.

Modified Mercalli Intensity atau MMI adalah satuan ukuran kekuatan gempa. Menurut BMKG, IV MMI menggambarkan getaran yang dialami banyak orang di dalam rumah, di luar – beberapa orang, keramik pecah, jendela/pintu berderit dan dinding berderak, sedangkan III MMI menggambarkan getaran nyata di dalam rumah dan getaran, seperti truk sedang mengemudi… Skala MMI II menggambarkan getaran yang dialami beberapa orang saat mengayunkan benda ringan yang digantung.

“BNPB juga mengimbau masyarakat untuk menyiapkan rencana kesiapsiagaan keluarga untuk mengantisipasi dampak buruk gempa. Korban meninggal bukan karena gempa, tapi karena puing-puing bangunan atau longsor akibat fenomena gempa,” kata Abdul.

Selain itu, diharapkan masyarakat dapat secara mandiri melihat tingkat risiko di wilayahnya menggunakan aplikasi inaRISK dan menilai struktur rumahnya menggunakan fungsi ACEBS di aplikasi inaRISK pribadi. Dengan menilai bangunan tempat tinggal secara mandiri, masyarakat dapat memahami kerentanan bangunan dan penguatannya sendiri.

Sementara itu, BMKG mencatat sebaran aktivitas gempa bumi di Indonesia antara Januari hingga Juni 2021 tercatat 4.701 kali, dengan rata-rata 783 gempa per bulan. Sedangkan Dariono mencatat 845 gempa bumi di Indonesia bulan lalu.

“Gempa dirasakan 69 kali, dengan magnitudo di atas 5,0 22 kali dan magnitudo di bawah 5,0823 kali,” tulis Dariono dalam unggahan media sosial pada awal Juli (5/7).

BNPB berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk mendapatkan informasi dan terus memantau situasi terkini pasca kejadian.

Artikel sebelumyaDPRP Papua Barat Pertanyakan Alokasi 2,25% Dana Otsus Papua
Artikel berikutnyaPemuda Papua sangat tertarik untuk menjadi calon prajurit TNI.