Beranda Warganet BPJS Kesehatan Dukung Implementasi Asesmen Teknologi Medis

BPJS Kesehatan Dukung Implementasi Asesmen Teknologi Medis

Jakarta (ANTARA) – Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mendukung pelaksanaan Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) atau Penilaian Teknologi Medis (HTA) untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas biaya, serta menetapkan paket manfaat bagi peserta JKN-KIS.

“Dengan meningkatnya biaya perawatan kesehatan, semakin diperlukan kualitas teknologi medis yang juga meningkat sebanding dengan peningkatan biaya. Peran PTK penting di era JKN, terutama dalam menentukan paket manfaat yang akan diterima peserta sehingga anggota dengan sumber daya terbatas dapat terus mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas,” kata Gufron dalam keterangan tertulis di Jakarta. Minggu.

Demikian disampaikan Ali Ghufron Mukti pada Workshop ASM 2022: Integrating Economic Assessment into the Curriculum and Implementing Catastrophic Disease Policy Development.

Dia menjelaskan bahwa pilihan teknologi medis harus dipandu oleh CAR dan pertimbangan klinis. Menurutnya, penggunaan pendekatan analisis farmakoekonomi dinilai tepat untuk evaluasi obat yang hemat biayadan analisis efektivitas alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dalam pelayanan kesehatan.

Dia mengatakan, berdasarkan PTK, memungkinkan pembuat kebijakan kesehatan untuk membuat keputusan tentang obat-obatan serta berbagai intervensi medis lainnya yang proporsional biaya, terutama dari perspektif kesehatan masyarakat.

“Secara umum kami mengapresiasi upaya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan yang telah membentuk panitia PTK yang akan bertanggung jawab melakukan penelitian terkait PTK. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat diterapkan sebagai kebijakan, sehingga selain berdampak positif bagi tercapainya keberlanjutan program JKN-KIS, juga menjamin kepuasan peserta dan efektifitas program. ,” tambah Gufron.

Sementara itu, Ketua Komite Pengkajian Teknologi Medis, Budi Viveko, mengatakan kajian teknologi kedokteran sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan di dalam negeri. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran telah memungkinkan untuk memperkenalkan banyak inovasi teknologi ke dalam bidang kesehatan.

Dengan demikian, melalui inovasi di bidang kesehatan diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan, meningkatkan kualitas hidup, disertai dengan kepuasan pasien, dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Erna Kristin, Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menjelaskan bahwa di era program JKN-KIS, semua pihak perlu memiliki wawasan yang luas. memahami akibat yang akan timbul. Hal ini harus menjadi fokus karena berkaitan dengan bagaimana menghadirkan upaya pencegahan, diagnosa dan pemberian pengobatan. perlakuan.

“Saat ini, sangat membantu kami untuk memiliki data dalam jumlah besar dimiliki oleh BPJS Kesehatan. Data ini perlu dianalisis data dalam jumlah besar dilakukan oleh semua pihak akan menjadi lebih mudah. Jadi diharapkan jika didukung oleh dokter atau profesi lain, mereka harus bekerja sama untuk memikirkan bagaimana membuat langkah-langkah preventif untuk proses pendidikan masyarakat, ”kata Erna.

Artikel sebelumyaDinkes Sulbar pantau SPM kesehatan di Pasangkayu
Artikel berikutnyaKemenpan-RB: Tahun 2022, ada 7080 formasi di sekolah umum