Beranda Nusantara BPPT melakukan rekayasa meteorologi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan di Provinsi...

BPPT melakukan rekayasa meteorologi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.

Jakarta (ANTARA) – Balai Teknologi Penilaian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Balai Teknologi Perubahan Cuaca (BBTMC) kembali melakukan operasi Weather Change Technology (TMC) untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.

Pengerahan TMC di Riau merupakan operasi kedua pada tahun 2021, kata Kepala BPPT BBTMC John Arifian dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

BBTMC BPPT telah menyiapkan 8,5 ton NaCL untuk pengiriman dari Tangerang dan akan ditambah sesuai kebutuhan selama operasi TMC.

Dalam operasi cloud-filling, tim TMC yang beranggotakan 11 orang ini didukung oleh Skadron Udara (AU) 4 Malang yang beranggotakan 11 awak.

Pelaksanaan TMC di Provinsi Riau merupakan hasil kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), BPPT, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Satgas. untuk Remediasi Karhutla Provinsi Riau.

Selain itu, dukungan juga diberikan oleh Lanud Rosmin Nurjadin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemerintah Provinsi Riau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, dan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. (BRGM).

John mengatakan, secara historis, curah hujan di Provinsi Riau adalah “khatulistiwa” dengan dua musim: hujan dan kemarau.

“Musim hujan menurun pada Februari-April (FMA) dan Juli-Oktober (JASO). Puncak musim kemarau pertama terjadi pada Februari tahun lalu, dan puncak musim hujan terjadi pada April-Mei,” ujarnya.

Pada bulan Juni, lanjut John, ia memulai masa peralihan, dan musim kemarau berikutnya dimulai pada bulan Juni, Juli, Agustus hingga September, dan peralihan Oktober, November, dan Desember pada musim hujan kedua.

“Dalam kondisi curah hujan yang rendah, hal ini dapat menimbulkan hot spot yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Asisten BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) Yudi Anantasena mengatakan dalam Peraturan Presiden (Inpres) #3 Tahun 2020 bahwa kegiatan TMC merupakan tugas BPPT dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

“Keberhasilan pencegahan kebakaran hutan dan lahan tentunya sangat bermanfaat bagi pemerintah, masyarakat, termasuk tanaman industri dan perkebunan,” kata Yudi.

Koordinator Lapangan Posko TMC BBTMC BPPT Pekanbaru, Tukiyat, mengatakan, pihaknya akan memulai operasi TMC pada 3 Juli 2021 dengan mengerahkan armada casa 212-200 A-2103 TNI AU.

TMC Sumsel-Jambi dan Riau merupakan paket yang diluncurkan oleh Dirjen Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 10 Juni 2021.

Pelaksanaan TMC Sumatera Selatan-Jambi dengan dukungan PT Sinar Mas Forestry dilaksanakan pada 10-27 Juni 2021. Sedangkan TMC Riau dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PT RAPP akan dimulai besok.

Sementara itu, Deputi PT RAPP Roni Hasfikar memuji dan mendukung TMC dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di Riau.

“Tahun ini kita ambil bagian untuk kedua kalinya. Tahun lalu, operasi TMC membuahkan hasil yang baik. Kami berharap tahun-tahun mendatang dapat mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Koordinator Layanan TMC BBTMC BPPT Sutrisno mengatakan, area prioritas untuk penyemaian awan adalah di atas lahan gambut.

“Targetnya adalah daerah berawan dengan titik panas dan curah hujan yang relatif sedikit. Jika tidak ada titik api, rekayasa awan akan terus dilakukan selama air yang jatuh bermanfaat untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Operasi TMC Karhutla di Riau difokuskan pada lahan gambut dalam di wilayah pesisir dan di bagian utara Riau.

Operasi TMC tahap pertama di Provinsi Riau dilakukan pada 10 Maret hingga 5 April 2021. Total volume air terproduksi mencapai 194,3 juta m3 berkat pelaksanaan 27 sorti dengan seeding dan konsumsi NaCL 21.500 kg.

Secara umum persentase curah hujan tambahan untuk periode TMC dari bulan Maret sampai April 2021 di Provinsi Riau berkisar antara 33-64% dari curah hujan alami.

Pantauan satelit TRMM mulai 10 Maret hingga 5 April 2021, curah hujan merata di seluruh Provinsi Riau. Curah hujan terbesar di daerah Pelalavan dan Indragiri-Hulu mencapai 400-480 mm. Sedangkan di daerah lain, curah hujan turun dari 40 menjadi 320 mm.

Artikel sebelumyaLongsor, Anda tidak bisa berkendara di sepanjang jalan lintas provinsi Palu-Kulavi
Artikel berikutnyaSeekor gajah jinak berusia empat tahun mati di Aceh