Beranda Nusantara BRGM: Kerusakan ekosistem mangrove kritis mencapai 637.000 ha.

BRGM: Kerusakan ekosistem mangrove kritis mencapai 637.000 ha.

Hingga tahun 2024, perkiraan target restorasi mangrove di Sumut sekitar 37.000 hektar.

Medan (ANTARA) – Badan Restorasi Gambut dan Mangrove melaporkan kerusakan ekosistem mangrove kategori kritis di Indonesia mencapai 637.000 hektar, sehingga perlu perhatian dan dukungan semua pihak baik pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat maupun masyarakat umum. publik. dalam rehabilitasi mereka.

“Kerusakan ekosistem mangrove yang masih cukup signifikan juga menjadi alasan penambahan mandat BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove) pada akhir tahun 2020,” kata Sekretaris BRGM Dr Ayu Devi Utari, Rabu.

Menurutnya, dalam rangka program “Sosialisasi Percepatan Restorasi Mangrove di Sumut” dilakukan pemantauan virtual di Medan, sesuai Perpres Nomor 120 Tahun 2020, BRGM akan merestorasi mangrove di sembilan provinsi selama empat tahun. sampai tahun 2024.

Ia menyebutkan hal ini dari sembilan provinsi, salah satunya Sumut yang dilaporkan memiliki kawasan mangrove yang luas dengan kriteria kerusakan kritis yang juga cukup luas.

Pada 2024, kata dia, target restorasi mangrove di Sumut diperkirakan sekitar 37.000 hektare (ha).

Dari total 37.000 ha, untuk tahun 2021 target seluas 11.600 ha dan sekitar 5.000 ha akan dilaksanakan oleh BRGM bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan (BPDASHL) Wampu Sei Ular.

Sisanya seluas 6.600 ha diselesaikan oleh BPDASL Asahan Barumun.

Kegiatan restorasi mangrove BRGM tingkat tapak akan dilakukan oleh masyarakat melalui penanaman bibit mangrove, termasuk di area tambak.

Banyak aktivitas di areal tambak yang ditolak oleh pemiliknya, kata Ayu.

“Penolakan itu karena pemahaman dan ketakutan pemilik tambak bahwa fungsi wilayah setelah rehabilitasi akan berubah menjadi petak hutan atau tanah negara,” kata Ayu.

Menurutnya, pemahaman tersebut kurang tepat, karena penanaman bibit mangrove di badan air, selain mengembalikan fungsi ekologis mangrove, juga meningkatkan produktivitas badan air yang lebih ramah lingkungan.

Model tanaman yang ditawarkan oleh BRGM cukup bervariasi, yaitu: penanaman bersih di areal yang rusak total, kehutanan, pengayaan dan penebangan semak.

“Skema penanaman yang akan digunakan didasarkan pada kondisi mangrove di tingkat tapak,” kata Ayu.

Artikel sebelumyaKebun durian di Agama diusulkan menjadi ekosistem penting
Artikel berikutnyaPakar IPB angkat bicara tentang pengenalan biosains hewan ke dalam sains