Beranda Nusantara BRIN: Penelitian lebih lanjut menunjukkan dampak lingkungan dari limbah farmasi.

BRIN: Penelitian lebih lanjut menunjukkan dampak lingkungan dari limbah farmasi.

Paparan parasetamol menyebabkan atresia pada kerang betina

Jakarta (ANTARA) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Woolan Coagow mengatakan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi dampak lingkungan dari limbah farmasi, termasuk potensi bahaya parasetamol atau produk farmasi lainnya terhadap biota laut.

“Penelitian juga akan dilakukan mengenai dampak limbah farmasi terhadap lingkungan. Topik hangat yang bisa kita telusuri kedepannya, dan saya sangat bersedia bekerjasama dengan siapa saja yang ingin mendalami topik ini,” ujar peneliti ekotoksikologi di Pusat Penelitian Oseanografi BRIN saat dihubungi perwakilan ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Woolan, bersama rekannya Zaynal Arifin, yang merupakan peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, dan George W.J. Olivier dan Corina Ciocan dari University of Brighton di Inggris, melakukan penelitian untuk menentukan apakah sisa parasetamol memasuki sistem laut.

Hasil dari studi pendahuluan yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin berjudul Konsentrasi tinggi parasetamol dalam air limbah dari Teluk Jakarta, Indonesia antara lain menunjukkan bahwa muara Sungai Angke dan muara Sungai Tsilivung Ankol di Teluk Jakarta tercemar parasetamol dalam konsentrasi tinggi.

Hasil studi yang dapat dilihat di sciencedirect.com ini merupakan studi pertama yang melaporkan parasetamol (acetaminophen) di perairan pesisir di Indonesia, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

“Studi ini hanya pendahuluan, akan sangat baik jika kita meneliti lebih banyak titik dengan lebih banyak lokasi dengan sampling rate yang lebih tinggi sehingga kita bisa mendapatkan data yang lebih andal,” kata Woolan.

Sementara itu, mengenai bahaya parasetamol bagi lingkungan di Teluk Jakarta, Woolan mengaku belum mengetahuinya dan perlu penelitian lebih lanjut. Namun jika konsentrasi selalu tinggi dalam jangka panjang, itu menjadi masalah karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan laut.

“Hasil penelitian di laboratorium kami menunjukkan bahwa paparan parasetamol pada konsentrasi 40 nanogram per liter menyebabkan atresia pada kerang betina dan reaksi edema,” katanya.

Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi bahaya parasetamol atau produk farmasi lainnya terhadap biota laut.

Sementara itu, Zainal Arifin mengatakan residu atau limbah obat-obatan atau obat-obatan tidak boleh masuk ke sungai dan air laut.

“Sudah menjadi tanggung jawab kita masing-masing, baik industri maupun masyarakat, untuk menjaga kesehatan manusia serta kesehatan lingkungan, termasuk laut. Semua ini dilakukan agar kita bisa hidup lebih bermakna,” ujarnya.

Zaynal mengatakan pemerintah perlu memperkuat peraturan pengelolaan air limbah untuk rumah tangga, kompleks perumahan dan pabrik industri.

“Sedangkan dalam menggunakan produk farmasi (obat, perangsang), masyarakat harus lebih bertanggung jawab, misalnya tidak membuang residu obat sembarangan. Tampaknya belum ada di sana, instruksi pembuangan diperlukan. residu obat, ”kata Zaynal.

Artikel sebelumyaRatusan warga Pakabba Sulsel keracunan makanan, satu meninggal
Artikel berikutnyaPolisi Buka Kasus Gudang Solar Subsidi Padang