Beranda News BSSN: 448.491.256 serangan siber terjadi pada Januari-Mei 2021.

BSSN: 448.491.256 serangan siber terjadi pada Januari-Mei 2021.

Alat-alat dasar senjata itu antara lain, informasi, yang tentu saja telah dirancang sedemikian rupa sehingga ditransmisikan ke sasaran manusia.

Jakarta (ANTARA) – Badan Siber dan Kriptografi Nasional (BSSN) Republik Indonesia melaporkan 448.491.256 serangan siber terjadi antara Januari hingga Mei 2021 selama pandemi COVID-19.

“Terjadi 448.491.256 trafik anomali atau serangan siber pada tahun 2021 antara Januari hingga Mei,” kata Kepala BSSN Hinsa Siburian pada presentasi Computer Security Incident Response Team (CSIRT) LIPI 2021 di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan bahwa sebagian besar kategori serangan siber adalah malware, Trojan, dan kebocoran informasi.

“Penggunaan teknologi digital berbanding lurus dengan munculnya ancaman. Jadi semakin sering digunakan, semakin besar kemungkinan menyerang atau gagal,” kata Hinsa.

Terkait dengan hal tersebut, Hinsa juga menyampaikan agar waspada terhadap serangan siber sosial yang dapat menimbulkan perpecahan dan mengganggu persatuan.

Sasaran serangan siber sosial adalah cara berpikir, sistem kepercayaan, dan perilaku manusia, serta memengaruhi ide, pilihan, opini, emosi, perilaku, opini, dan motivasi.

“Dalam perang informasi yang senjata utamanya adalah informasi, dibuat sedemikian rupa sehingga tentu saja akan disalurkan ke tujuan manusia, dan manusia dapat berubah sesuai dengan keinginan para penjahat,” katanya.

Hinsa mengatakan perang informasi dapat memecah-belah tujuan dan merusak persatuan. Perang informasi dapat menargetkan dimensi budaya, sosial, ekonomi, politik, militer dan diplomatik.

Berbagai metode yang digunakan dalam perang informasi antara lain membuat dan menyebarkan bukti palsu melalui media sosial untuk menciptakan keresahan sosial di masyarakat, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kelompok orang tertentu, dan mengisi ruang informasi dengan informasi yang saling bertentangan sehingga publik tidak lagi mampu menilai keandalan informasi tentang fenomena tersebut.

Artikel sebelumyaBSSN: CISRT Perkuat Perlindungan E-Government
Artikel berikutnyaMAKI melaporkan Djokovi ke Jaksa Agung S.T. Burkhanuddin