Beranda Nusantara Buaya di Sungai Mentaya di Kalimantan Tengah adalah pemandangan yang harus dilihat...

Buaya di Sungai Mentaya di Kalimantan Tengah adalah pemandangan yang harus dilihat oleh penduduk setempat.

90 persen serangan buaya terjadi pada malam hari sebelum fajar.

Sampit (ANTARA) – Seekor buaya muara muncul di Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Cotavaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu sore, yang menjadi pemandangan bagi warga karena muncul hewan buas di perairan dekat pemukiman penduduk.

“Makanya kami takut beraktivitas di sungai, karena buaya sudah sampai di perairan kota. Selama ini kita tahu bahwa buaya sering muncul hanya di daerah selatan atau di dekat mulut,” kata Imam, warga Sampit. , Sabtu.

Seekor buaya dengan panjang lebih dari dua meter muncul di perairan dekat pelabuhan penyeberangan di desa Mentaya Seberang. Tempat ini berada di seberang sungai dengan ikon Jelawat yang merupakan simbol kota Sampit.

Buaya itu terlihat tenang, meski saat itu beberapa warga hilir mudik menggunakan perahu motor di dekat tempat buaya itu muncul. Beberapa warga bahkan berhasil mengabadikan momen kemunculan buaya tersebut dengan merekam video di ponsel mereka.

Menurut warga, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Warga hanya melihat dari jauh dan tidak berani mengganggu buaya yang sedang berenang ke hulu.

Sementara itu, Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Pos Sampit Murianyah, mengaku mendapat informasi kemunculan buaya itu dari video yang diunggah warga.

“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada saat melakukan aktivitas di sungai, terutama terkait dengan kemunculan buaya di dekat pemukiman tersebut. Apalagi saat gelap, mereka harus lebih berhati-hati karena rentan diserang buaya,” kata Murianha.

Buaya yang mengincar badan air di dekat pemukiman diyakini mencari makanan karena sumber makanan di habitatnya semakin sulit ditemukan. Tindakan warga membuang bangkai hewan atau limbah rumah tangga ke sungai dapat memicu munculnya buaya, karena ada sumber makanan bagi mereka.

Menurut BKSDA, jumlah serangan buaya di Kabupaten Cotavaringin Timur cukup tinggi. Sedikitnya 42 warga menjadi korban serangan hewan ganas tersebut, bahkan enam di antaranya meninggal dunia.

“Dari 2010 hingga 2021, ada 42 dugaan serangan buaya terhadap manusia. Akibat serangan itu, 26 orang luka-luka dan 6 orang tewas, sedangkan sisanya tidak luka-luka,” kata Murianya.

Murianya menjelaskan, serangan buaya biasanya dilakukan di tempat gelap. Saat itu, rata-rata korban sedang aktif di sungai dan tidak memperhatikan penampakan buaya yang kemudian mencengkeram mereka.

“Dari insiden yang terjadi, hampir 90 persen serangan buaya terjadi pada malam hari menjelang subuh. Namun, ada juga serangan buaya yang terjadi pada siang hari,” ujarnya.

Berdasarkan kejadian tersebut, tercatat 34 penyerangan dimana warga melakukan aktivitas mandi, cuci atau buang air besar di bantaran sungai, enam saat mencari kerang atau udang, satu saat rotan hanyut, dan satu saat korban jatuh ke sungai.

Artikel sebelumyaPesawat tempur F-16 TNI AU berpatroli di pulau-pulau terluar di Selat Malaka
Artikel berikutnyaKetua DPR mengingatkan pemerintah tentang penyebaran vaksinasi terhadap COVID-19