Beranda News CSIS: Investasi di Riset Dibutuhkan untuk Memindahkan Indonesia ke 2045

CSIS: Investasi di Riset Dibutuhkan untuk Memindahkan Indonesia ke 2045

Jakarta (ANTARA) – Alokasi anggaran yang lebih besar untuk investasi penelitian dan pengembangan teknologi mutlak diperlukan untuk mewujudkan Indonesia maju pada 2045, kata Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Philips J. Vermont, Rabu di Jakarta.

Lebih banyak anggaran untuk penelitian dan pengembangan teknologi merupakan faktor penting dalam mendorong berbagai jenis inovasi, kata Vermont.

“Kita harus membangun ekonomi berbasis inovasi dan teknologi,” kata Philips saat diskusi presentasi buku Menuju Indonesia 2045 di Jakarta, Rabu.

Pendapat Philips, yang juga merupakan posisi CSIS Indonesia dalam penelitiannya tentang ramalan Indonesia 2045, sejalan dengan The Rise and Fall of Great Powers karya sejarawan Paul Kennedy. …

Dalam buku tersebut, Paul menemukan bahwa negara bisa menjadi negara adidaya karena mereka berinovasi dan menciptakan kemajuan teknologi.

“Ini adalah prasyarat yang paling penting. “Tidak mungkin suatu negara menjadi hebat tanpa menjadi negara yang mengembangkan inovasi dan teknologi,” kata direktur eksekutif CSIS Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, Philips menyampaikan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi di Indonesia untuk mencapai visi 2045, salah satunya adalah peningkatan anggaran penelitian.

“Belanja riset Indonesia per 2018 hanya 0,1 persen dari PDB (produk domestik bruto). Ini adalah jumlah yang sangat kecil. Korea Selatan menghabiskan 4,1 persen dari PDB-nya,” kata Philips.

Dia melanjutkan, Korea Selatan dan Indonesia berada dalam kondisi yang sama di tahun 1970-an, terutama di sektor pendapatan per kapita, prestasi akademik dan pendidikan.

“Tapi karena mereka serius pengeluaran (menghabiskan uang, red.) Ada lompatan besar ke depan dalam penelitian, ”kata Philips.

Beberapa pembicara, antara lain Gubernur Lembaga Keberlanjutan Nasional Indonesia (Lemhannas), Letjen TNI (purnawirawan) Agus Vijojo, mencontohkan Korea Selatan sebagai salah satu contoh negara yang berhasil menggunakan soft power atau kekuatan nonmiliter untuk membangun ekonomi dan menyebarluaskan. pengaruhnya ke negara lain.

Soft power Korea Selatan termasuk budaya pop atau K-Pop Korea, yang kini digandrungi oleh anak muda di hampir setiap negara di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Philips, keberhasilan K-Pop, yang pada gilirannya telah membantu mengembangkan industri lain di Korea Selatan, adalah hasil penelitian bertahun-tahun.

“Kami melihat K-Pop, tetapi ada penelitian dan inovasi terus-menerus di baliknya,” katanya.

Artikel sebelumyaTMMD di Solok bantu renovasi rumah warga untuk membuka akses pertanian
Artikel berikutnyaPolisi masih mengoordinasikan pemindahan tersangka Munarman ke kejaksaan