Beranda Hukum Deputi Partai Komunis Tiongkok: Hanya 7 Pelaku Korupsi yang Dihukum Inspeksi Instruktur...

Deputi Partai Komunis Tiongkok: Hanya 7 Pelaku Korupsi yang Dihukum Inspeksi Instruktur Anti-Korupsi

Betapa sakitnya ketika mereka disebut tersangka, bagaimana perasaan mereka sendiri, keluarga mereka dan anak-anak mereka saat itu.

Jakarta (ANTARA) – Deputi Bidang Pendidikan dan Pelayanan Publik Partai Komunis Tiongkok, Vavan Vardiana, mengatakan baru tujuh terpidana korupsi yang diperiksa, sehingga memenuhi syarat untuk menjadi penasihat antikorupsi.

“Dari 28 (di Lapas Sukamiskin) yang lulus tes ganda, hanya empat yang memungkinkan karena ada yang mau,” kata Wawan pada konferensi pers di gedung PKC di Jakarta pada hari Jumat.

Namun, menurut dia, setelah diuji oleh psikolog ternyata tidak mungkin, lalu di Lapas Tangerang, dari 22 orang, hanya tiga orang yang memungkinkan.

Pada 31 Maret 2021, PKC sebagai bagian dari program asimilasinya melakukan penyuluhan antikorupsi terhadap 24 terpidana kasus korupsi, yakni mereka yang masa hukumannya akan segera berakhir. Acara tersebut juga digelar di Lapas Wanita Tangerang pada 20 April 2021.

“Karena pandemi ini, empat dan tiga orang tidak sempat mencatat kesaksiannya. Mudah-mudahan nanti, ketika tingkat PPKM mulai menurun atau bahkan hilang, kami akan melanjutkan program untuk mendengar masukan dari mereka,” kata Wawan.

Menurut Wawan, Komisi Pemberantasan Korupsi memilih narapidana yang telah divonis hukuman beberapa bulan atau tahun untuk mengikuti program tersebut.

“Dengan cara ini, hanya mereka yang tinggal sebentar yang bisa mengingat dampak korupsi,” kata Wawan.

Ia berharap mereka dapat memberikan masukan yang akan menjadi pelajaran bagi penyelenggara atau masyarakat luas.

Menurut Wavan, kesaksian itu menyangkut kehidupan di penjara dan tahapan mereka menjadi terpidana kasus korupsi.

“Kedepannya akan kita sosialisasikan agar semua pihak bisa belajar dari perjalanannya, mengetahui bagaimana sakitnya saat ditetapkan sebagai tersangka, bagaimana perasaannya, keluarganya, anak-anaknya, tersangka baru, narapidana dan sebagainya,” Wawan dikatakan.

Menurut Wavan, cerita para napi agak miris.

“Apa yang terjadi lagi bahkan lebih menyedihkan bagi kami yang mendengarkan. Namun, mereka hanya mengobrol, tidak merekam, ”katanya.

Vavan melanjutkan, “Hanya dengan mendengar ini, kami sendiri sudah merasakan sesuatu yang baik untuk semua pihak. Semoga setelah pandemi ini mereda, kami akan mendaftarkan beberapa teman kami yang mau.”

Artikel sebelumyaDJP Serentak Sita 12 Aset Utang Pajak di Riau
Artikel berikutnyaPolisi temukan benih lobster Rp 11 miliar di mobil netral