Beranda Hukum Dirtipidum Polri Ungkap Kronologi Awal Penganiayaan M. Kese

Dirtipidum Polri Ungkap Kronologi Awal Penganiayaan M. Kese

Jakarta (ANTARA) – Kepala Satuan Reserse Kriminal Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Jajadi membeberkan kronologi awal penganiayaan yang dialami M Kese di Bareskrim Polri, salah satunya di antaranya terjadi pada tengah malam pukul 00.30 WIB.

Pada Senin malam, Brigjen Andi mengatakan penganiayaan dilancarkan setelah Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte (NB) pertama kali menutupi M. Kese dengan kotoran manusia, selain tiga narapidana yang membantunya.

“Penyelidikan masih berlangsung, tetapi secara umum dimulai dengan masuknya N.B. bersama tiga narapidana lainnya ke kamar (sel) korban MK sekitar pukul 00.30 WIB,” kata Brigjen Andi.

Andi juga mengatakan, pada malam kejadian, seorang saksi narapidana lain diperintahkan untuk membawa plastik putih ke kamar Napoleon Bonaparte yang diketahui mengandung feses (kotoran manusia).

“Menurut NB, kemudian korban diolesi kotoran di wajah dan bagian tubuhnya. Setelah itu N.B. terus memukul/melecehkan korban di MK,” kata Andi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, terbukti dari rekaman kamera CCTV, aksi kekerasan berlangsung sekitar satu jam.

“Menurut data video surveillance yang terekam pada pukul 01.30 WIB, NB. dan tiga napi lainnya keluar dari sel korban,” kata Andi.

Saat ditanya bagaimana napoleon dan tiga napi lainnya bisa masuk ke sel M. Keche, Andi mengatakan kunci sel Kese ditukar dengan kunci milik napi lain yang berinisial H alias C.

Pertukaran kunci dilakukan atas perintah Napoleon Bonaparte.

“Kunci standar sel korban diubah menjadi” kunci milik ketua Republik Tatarstan “atas permintaan NB, sehingga mereka bisa mendapatkan akses.

Tujuh saksi diperiksa hari ini. Ketujuh orang itu termasuk empat petugas dari departemen investigasi kriminal polisi dan tiga tahanan.

Sebelumnya, Kabag Humas Inspektur Jenderal Polri Paul Argo Yuvono mengatakan pemeriksaan saksi dimaksudkan untuk memperjelas kronologis penganiayaan.

“Ini sedang didalami, makanya empat sipir diperiksa, nanti kita cari tahu apa yang terjadi pada empat napi itu. Di sisi lain, yang bersangkutan masih seperti bos, dan bawahannya menjaga napi,” kata Argo.

Sementara itu, Argu juga menjelaskan bahwa Napoleon Bonaparte masih ditahan di Bareskrim Polri karena kasus suap dan pembatalan “red notice” Joko Tyandra tidak menyerah, karena masih dalam proses kasasi.

“Masih belum inkrah, masih ada imbauan,” kata Argo.

Selain itu, karena kasus penangkapan Napoleon belum pensiun, yang bersangkutan belum dinonaktifkan sebagai anggota Polri.

Kepala Departemen Propaganda Polri, Inspektur Jenderal Paul Ferdi Sambo, mengatakan sidang etik akan digelar menyusul selesainya kasus terhadap Napoleon.

“Komisi Kode Etik Polri menyiapkan sidang Komisi Etik terhadap Inspektur Jenderal Paul N.B. setelah registrasi,” kata Sambo.

Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte diketahui telah mengajukan banding setelah Pengadilan Tinggi Jakarta memvonisnya empat tahun penjara karena penghapusan “red notice” Joko Tyandra.

Artikel sebelumyaSoal anggaran pemilu 2024, ini jawaban DPR.
Artikel berikutnyaPemerintah Kabupaten Tangerang memastikan Pilkada akan digelar di 77 desa pada 10 Oktober mendatang.