Beranda Warganet Distribusi vaksin secara teratur dibatasi oleh ruang penyimpanan.

Distribusi vaksin secara teratur dibatasi oleh ruang penyimpanan.

Pemerintah membeli vaksin konvensional yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu vaksin rutin (DT, BoPV, hepatitis B, BCG, DPT dan MR).

Jakarta (ANTARA). Arianti Anaya, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, mengatakan sebagian besar provinsi di Indonesia tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai untuk mendistribusikan vaksin secara teratur.

“Kendalanya vaksin yang disimpan tidak bisa didistribusikan ke seluruh provinsi karena kapasitas penyimpanan vaksin provinsi sudah penuh dengan vaksin COVID-19, jadi kami masih menunggu untuk bisa menyimpan vaksin konvensional,” kata Arianti Anaya saat rapat dengar pendapat dengan KPU. IX yang dihadiri perwakilan YouTube DPR RI di Jakarta, Senin siang.

Arianti mengatakan, pemerintah membeli vaksin konvensional pada 2021 yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni vaksin rutin (DT, BoPV, hepatitis B, BCG, DPT, dan MR). Jenis vaksin baru adalah Hib dan vaksin lainnya seperti IPV dan PCV.

Vaksin DT digunakan untuk profilaksis tetanus, BoPV untuk profilaksis polio, hepatitis B untuk profilaksis hepatitis, BCG untuk profilaksis tuberkulosis, DPT untuk profilaksis difteri dan MR untuk profilaksis rubella.

Diperlukan vaksin Hib jenis baru untuk mencegah radang otak (meningitis) dan vaksin lain seperti IPV untuk mencegah polio dan PCV untuk mencegah pneumonia.

Vaksin secara rutin sangat penting untuk memenuhi kebutuhan imunisasi nasional yang terhambat oleh pandemi COVID-19 2019-2020, kata Arianti.

Pengadaan vaksin tersebut berdasarkan pesanan menggunakan APBN dan bantuan hibah dalam rangka kerjasama multilateral dengan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI).

“Progresnya per 19 November 2021 sudah mencapai 99,9% atau Rp 1,062 triliun dari pagu yang tersedia Rp 1,62 triliun,” katanya.

Arianti mengatakan percepatan vaksinasi COVID-19 diharapkan dapat menyediakan ruang penyimpanan vaksin konvensional di fasilitas kesehatan provinsi.

Kemenkes saat ini sedang berkoordinasi dengan produsen vaksin untuk mempercepat proses produksi agar bisa segera digulirkan ke seluruh provinsi.

Artikel sebelumyaPenurunan 161, kasus aktif COVID-19 menjadi 7965
Artikel berikutnyaNadiem Makarim kunjungi PBNU untuk minta pendapat soal Permendikbud