Beranda Hukum ICJR: Beban Penjara dan Penjara Capai 223 Persen Per Januari 2022

ICJR: Beban Penjara dan Penjara Capai 223 Persen Per Januari 2022

Jakarta (ANTARA) – Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) melaporkan beban kerja Rutan dan Lapas untuk menampung para tahanan di Indonesia terus meningkat dan mencapai 223 persen hingga Januari 2022.

Kondisi overpower (kepadatan penduduk) di Rutan dan Lapas praperadilan telah menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain praktik jual beli benda-benda penting yang diduga berlangsung di dalam Rutan hingga puluhan napi tewas dalam kebakaran Lapas.

Oleh karena itu, Direktur Eksekutif ICJR Erasmus Napitupulu, dalam siaran tertulis yang diterima, Minggu di Jakarta, mendesak berbagai pihak, mulai dari eksekutif hingga legislatif, untuk segera mengambil tindakan untuk mengurangi kelebihan kapasitas Lapas dan Rutan.

“Jika pemerintah benar-benar serius menyelesaikan masalah kepadatan penduduk penjara dan penjara, ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan segera. UU Narkoba yang masih menjadi isu utama jelas perlu mendapat perhatian lebih,” kata Erasmus.

Dikatakannya, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dapat secara drastis mengurangi beban lapas dan rutan dengan memberikan amnesti/pengampunan besar-besaran kepada terpidana kasus narkoba.

Erasmus menyarankan bahwa pengampunan dapat diberikan kepada narapidana narkoba yang dipenjara karena menggunakan zat terlarang sendiri.

Pasalnya, jumlah terpidana pelaku narkoba kini melebihi jumlah narapidana di Rutan dan Lapas di Indonesia.

Tidak hanya itu, ICJR juga meminta Presiden Joko Widodo menginstruksikan polisi dan kejaksaan untuk menggunakan pusat non-penahanan sebagai alternatif seperti tahanan rumah dan tahanan kota.

“Pemerintah juga bisa mendorong penggunaan mekanisme penjaminan yang diatur dalam KUHAP,” jelas Erasmus.

ICJUR juga mendesak Presiden untuk meminta kejaksaan untuk menerapkan pasal 14a dan 14c KUHP dalam mengadili pengguna narkoba. Pasal-pasal ini memungkinkan penangguhan hukuman dengan masa percobaan dan rehabilitasi jalan atau rawat inap, sesuai kebutuhan, jelas Erasmus.

ICJR melaporkan bahwa jumlah tahanan di pusat-pusat penahanan dan penjara terus meningkat. Per 30 Maret 2020, di awal pandemi, jumlah narapidana mencapai 270.721, sedangkan daya tampung Rutan dan Lapas Praperadilan hanya 131.931 orang.

Beban kerja Lapas dan Rutan pada awal pandemi mencapai 205 persen.

Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan percepatan asimilasi di tanah air, yang pada Agustus 2020 mengurangi beban rutan dan rutan menjadi 175 persen.

Namun, jumlah ini akan meningkat lagi pada tahun 2021. Hingga Juni 2021, jumlah narapidana di Rutan dan Lapas sebanyak 271.992, sehingga bebannya mencapai 200 persen.

“Sejauh ini, pada Januari 2022, beban Lapas dan Lapas sudah mencapai 223 persen,” kata ICJR dalam keterangan tertulis.

Artikel sebelumyaMenhub: Berkat FIR, Indonesia mengelola 249.575 m2. km wilayah udara
Artikel berikutnyaBea dan Cukai tidak mengedarkan rokok ilegal asal Jepara