Beranda Nusantara Jawa Tengah bagian selatan sudah memasuki masa transisi

Jawa Tengah bagian selatan sudah memasuki masa transisi

Chilacap (ANTARA). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jawa Tengah bagian selatan dan pegunungan tengah Jawa Tengah telah memasuki masa peralihan atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

“Saat ini ada masa transisi yang ditandai dengan peningkatan suhu udara pada pagi dan sore hari,” kata Tegu Vardoyo, Kepala Tim Teknis BMKG Stasiun Meteorologi Chilacap Tunggul Wulung, di Chilacap, Kamis.

Sebagai gambaran, kata dia, suhu udara maksimum di stasiun meteorologi Tunggul Wulung selama beberapa hari terakhir berkisar antara 32 hingga 33 derajat Celcius, lebih tinggi dari suhu bulan sebelumnya yang berkisar antara 31 hingga 32 derajat. derajat Celcius.

Masa peralihan, kata dia, juga ditandai dengan perubahan arah angin dan hujan deras yang tiba-tiba disertai kilat dan angin kencang.

“Hujannya tidak merata dan cenderung sering turun pada siang dan malam hari,” katanya.

“Oleh karena itu, masyarakat tetap harus mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah pegunungan Jawa Tengah, mengingat curah hujan pada April 2022 diperkirakan masih tinggi,” tambahnya.

Menurut dia, curah hujan di dataran tinggi tengah Jawa Tengah pada April 2022 diperkirakan berkisar 300 hingga 500 milimeter, dan di wilayah Cilacap secara keseluruhan 200 hingga 300 milimeter, kecuali Majenang dan sekitarnya. (Barat-Utara Cilacap), di mana curah hujan diperkirakan berkisar antara 300 hingga 400 mm.

Tegu mengatakan, perairan selatan Jawa Barat hingga Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Samudera Hindia bagian selatan Daerah Istimewa Jawa Barat-Yogyakarta kini juga memasuki masa peralihan dari musim angin barat ke musim angin timur.

“Nanti kalau sudah benar-benar memasuki masa transisi, ombak di perairan dan Samudera Hindia akan pelan. Jika masih berosilasi, terkadang terjadi gelombang tinggi karena tekanan di Samudera Hindia masih rendah di bagian selatan-barat daya. Jawa, katanya.

Ia mencontohkan pada 7 April pukul 1900 WIB hingga 8 April pukul 1900 WIB, tinggi gelombang di Perairan Selatan Sukabumi-Chianjur, Perairan Selatan Garut-Pangandaran, Perairan Selatan Hindia Jawa Barat, Perairan Selatan Chilakap, Perairan Selatan Kebumen-Purworeho, Perairan Selatan. Yogyakarta dan Samudera Hindia bagian selatan, Jawa Tengah-Yogyakarta, diperkirakan setinggi 1,25–2,5 meter atau dalam kategori sedang.

Mulai tanggal 8 April pukul 19:00 WIB hingga 9 April pukul 19:00 WIB, ketinggian gelombang di Samudera Hindia Selatan di wilayah Jawa Barat dan di Samudera Hindia Selatan di Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta berkisar antara 2,5 hingga 4 meter. atau masuk dalam kategori tinggi dan tinggi gelombang di perairan selatan Sukabumi hingga Yogyakarta diperkirakan antara 1,25 meter hingga 2,5 meter.

Artikel sebelumyaBNPB meminta pemerintah daerah untuk menyatakan keadaan darurat sesegera mungkin sehubungan dengan kebakaran hutan dan lahan
Artikel berikutnyaPemerintah sedang menyiapkan program untuk pengolahan batu bara