Beranda Warganet Jenazah korban kerusuhan Sorong dari Bukittinggi dimakamkan

Jenazah korban kerusuhan Sorong dari Bukittinggi dimakamkan

Almarhum baru minggu lalu berangkat kerja ke Sorong

Bukittinggi (ANTARA). Jenazah salah satu korban kerusuhan yang terjadi di Sorong, Papua Barat yang dikenal sebagai warga asli Kota Bukittinggi, disemayamkan di pemakaman keluarga di Jorong Aro Kandikia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Senin.

Korban bernama Inda Sukmadani atau lebih dikenal DJ Inda Cleo merupakan salah satu dari 17 korban kerusuhan yang terjadi di Double O Club, Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (25/ Januari).

Jenazah didatangkan langsung dari Papua Barat, didampingi tiga anggota keluarga yaitu paman dan dua saudara laki-lakinya, dan dimakamkan di rumah duka.

Jenazah kemudian disembah di Mushalla Istiqama di belakang rumah duka dan dimakamkan di suku Pandam Pakuburan Tanjuang, di Bukik Palapah, tidak jauh dari rumah duka.

“Atas permintaan terakhir almarhum bahwa jika dia meninggal, dia ingin dimakamkan di sebelah makam ayahnya, kami sekeluarga berusaha memenuhi permintaan terakhir ini,” kata paman almarhum Sonya.

Dia mengatakan permintaan terakhir dilakukan oleh saudara perempuan korban, yang menghubunginya sebelum terungkap bahwa dia adalah salah satu korban yang tewas dalam bentrokan di Sorong.

“Pada saat kakak DJ Cleo berada di klub malam Double O, saudaranya melaporkan bahwa ada pertengkaran di klub. Dalam percakapan terakhir DJ Indah Cleo dengan Sukma, dia mengatakan bahwa klub tempat dia bekerja mulai terbakar dan asap,” jelasnya.

Menurut dia, korban juga berkirim salam kepada seluruh anggota keluarganya yang ada di Bukittinggi dan menitipkan putra satu-satunya kepada adik laki-lakinya dalam perawatan hingga sukses diraih.

“Tidak ada kecurigaan atau pertanda buruk dari pihak keluarga, almarhum baru saja berangkat ke Sorong pekan lalu untuk bekerja dan ini merupakan penampilan perdananya di Papua Barat,” ujarnya.

Sony menambahkan, jenazah DJ Inda Cleo bisa segera dibawa pulang dan diidentifikasi setelah jenazah pertama dengan tanda fisik diautopsi.

“Almarhum memakai pulpen di pinggul kirinya karena kakinya patah, pulpennya masih menempel sejauh ini, sehingga bisa cepat dikenali,” katanya.

Artikel sebelumyaKLHK dan PBNU bekerjasama dalam bidang pengelolaan alam dan pengelolaan hutan
Artikel berikutnyaUpaya pencegahan stunting dimulai dari Xiangdu