Beranda Hukum K.Kh. Muflich: Jangan terprovokasi dan salah persepsi saat mengambil PPKM.

K.Kh. Muflich: Jangan terprovokasi dan salah persepsi saat mengambil PPKM.

Jakarta (ANTARA) – Presiden Lajna Tanfidzia (LT) Siarikat Islam Indonesia KH saat pandemi COVID-19.

“Kondisi yang dihadapi masyarakat tentu berbeda. Kemampuan orang juga tidak sama, tingkat kecerdasannya juga berbeda. Ini memudahkan orang untuk memancing undian,” kata KH Muflich dalam keterangan tertulis yang diterimanya. di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, K.H. Muflich meminta sosialisasi perang melawan pandemi COVID-19 disosialisasikan dan dijelaskan sebaik mungkin agar masyarakat sadar dan dapat mengambil keputusan dengan baik.

“Sosialisasi ini (terkait politik saat pandemi) perlu dijelaskan sejelas mungkin kepada seluruh masyarakat, dengan mempertimbangkan perbedaan perspektif masyarakat. Ini harus dilanjutkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat dan tokoh agama,” ujarnya. miliknya.

Muflich menambahkan, dalam kondisi seperti perbedaan penerimaan di masyarakat, hal ini masih wajar, sehingga setiap orang harus bersabar dan mampu mengendalikan diri agar upaya mengatasi pandemi COVID-19 bisa berhasil.

Adapun pelanggar kebijakan darurat PPKM, ia memperkirakan hal itu disebabkan oleh keegoisan orang yang tidak peduli dengan orang lain, lingkungan dan sistem yang ada.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka berada dalam sistem dan melakukan peran yang berbeda sebagai orang di negara, sehingga mereka biasanya tidak memikirkan manfaat orang.

“Orang-orang ini lebih egois, mengesampingkan hal-hal besar dan keuntungan besar. Dia tidak menyadari bahwa dia hidup dalam sistem yang dikelola negara untuk kepentingan seluruh masyarakat, ”katanya.

Mengenai provokasi yang sebenarnya dilakukan oleh para pemuka agama, Muflich mengatakan bahwa sebagai seorang pemuka agama tentunya ia adalah orang yang berilmu, ia harus bertindak sesuai dengan nilai dan ajaran agama dan tidak memperburuk keadaan.

“Pikiran dan moralitasnya tidak berfungsi. Banyak orang mempertaruhkan syahwatnya tanpa wahyu, jadi mungkin kita sekarang memasuki era jahiliyah,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa situasi saat ini memang sangat sulit dan merupakan ujian berat bagi penyelenggara pemerintahan, terutama untuk memastikan masyarakat bebas dari rasa takut dan kelaparan.

“Penyelenggara negara harus memahami bahwa warga negara harus diperjuangkan untuk menghilangkan kelaparan dan ketakutan, jadi ini ujian yang sulit bagi pemerintah,” katanya.

Muflich juga berharap, upaya moderasi beragama harus terus dilakukan bagi generasi penerus bangsa agar mereka siap dan terlatih agar tetap aman dari kerusuhan, hambatan, tantangan dan ancaman, terutama dalam kondisi seperti pandemi COVID-19.

Artikel sebelumyaBupati Belo minta Kemenkumham perluas kebijakan lintas batas
Artikel berikutnyaBrian Adams menandatangani kontrak baru dengan BMG