Beranda Nusantara Kebun durian di Agama diusulkan menjadi ekosistem penting

Kebun durian di Agama diusulkan menjadi ekosistem penting

Kami akan menawarkan situs tersebut sebagai Perwakilan KEE Ekosistem Terestrial kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022.

Lubukbasung (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar akan menawarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) perkebunan durian dan perkebunan besar medang (Litsea Sp) di Kabupaten Agama sebagai Kawasan Ekosistem Penting (KEE).

Durian dan perkebunan besar medang terletak di hutan adat Nagari Koto Malintang, wilayah Tanjungraya, Regensi Agama.

“Situs ini akan kami tawarkan sebagai KEE yang mewakili ekosistem terestrial kepada KLHK pada tahun 2022 dan KEE tidak mengubah status kepemilikan lahan,” kata Kepala Balai Konservasi Wilayah I Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Hayri Ramadan, didampingi Pengelola Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra, meninjau lokasi kayu besar di Nagari Koto Malintang, Rabu.

Dikatakannya, durian dan kebun hutan besar telah diusulkan sebagai KEE yang mewakili ekosistem terestrial karena potensi ekosistem hutan yang terbentuk dari vegetasi yang didominasi pohon durian.

Selain itu, menurut hasil identifikasi pada tahun 2020, situs tersebut juga berisi satwa liar seperti beruang madu, rusa, kambing hutan, landak, rangkong dan berbagai jenis satwa liar lainnya.

“Kami melakukan identifikasi melalui studi lapangan dan tanda-tanda hewan berupa jejak kaki, cakaran dan kotoran, serta citra visual kamera trap yang dipasang di area tersebut,” ujarnya.

Selain itu, ada pohon hutan dengan diameter 4,6 meter, diameter 14 meter, tinggi tanpa cabang 34 meter dan tinggi sebenarnya lebih dari 50 meter, dan volumenya sekitar 516 meter kubik.

Diperkirakan pohon ini berumur sekitar 560 tahun dan ini berdasarkan rumus untuk menentukan umur kayu yang digunakan.

“Pohon kayu ini terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, karena kayu mahota tane 4,4 meter di Selandia Baru,” katanya.

Ia menambahkan, pohon berkayu tumbuh di hutan rakyat dan terawat baik.

Hal tersebut merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat setempat, sehingga pohon kayu tersebut terpelihara dengan baik hingga menjadi besar.

“Kalau menemukan pohon besar di hutan lindung, tidak apa-apa, tapi tumbuh di hutan rakyat tidak biasa,” katanya.

Sebelum usulan ini, lanjutnya, BKSDA Sumbar akan berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah Kabupaten Agama.

Kemudian berdiskusi dan menyarankan tempat untuk menjadi KEE.

“Kami berharap tempat ini akan disetujui KEE. Sebelumnya kami juga telah mengusulkan Sungai Batang Masang di Nagari Tiku Lima Jorong sebagai KEE yang mewakili ekosistem perairan. Saat ini masih dalam proses identifikasi dan pembentukan badan pengelola KEE,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Nagari Koto Malintang, Naziruddin, telah mendukung dan menyetujui BKSDA Sumbar untuk menawarkan perkebunan durian dan lokasi penebangan besar sebagai KEE.

Pada tahun 2008, diusulkan untuk menempatkan kebun raya di sini, tetapi belum dilaksanakan.

“Kami sangat mendukung transformasi fasilitas ini menjadi KEE untuk mendukung pemanfaatan potensi yang ada, karena tidak mengubah status kepemilikan,” ujarnya.

Artikel sebelumyaTingkatkan Kualitas Konektivitas Digital, Menteri Johnny: Kominfo Mulai Refarming di 9 Klaster
Artikel berikutnyaBRGM: Kerusakan ekosistem mangrove kritis mencapai 637.000 ha.