Beranda Warganet Kemenag berharap pemikiran Islam di Indonesia menjadi rujukan global.

Kemenag berharap pemikiran Islam di Indonesia menjadi rujukan global.

Kalau ada silaturahmi pasti ada sharing ilmu, dll.

Solo (ANTARA) – Kementerian Agama berharap pelaksanaannya Konferensi Internasional Tahunan tentang Studi Islam (AICIS) 2021 dapat mendorong pemikiran Islam di Indonesia menjadi benchmark global dalam menjawab berbagai tantangan.

“Kami juga ingin mengekspor ide-ide Islam yang dimiliki Indonesia, dan mereka memiliki fondasi yang sangat kokoh. Kami memiliki ahli-ahli otoritatif dalam reaktualisasi fiqh,” kata M. Ali Ramdhani, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, di Solo, Senin. …

Ramdhani mengatakan sampai saat ini fiqh yang digunakan di Indonesia berasal dari referensi fiqh asing. Sementara itu, ada beberapa hal yang perlu direvisi dan disesuaikan dengan kondisi sosial di suatu wilayah tertentu.

Saat ini, katanya, para pemikir Islam di Indonesia memiliki reputasi yang sama baiknya dalam mengaktualisasikan kembali fiqh. Kemenag meyakini, berkat sumber daya intelektual dan pemahaman keagamaan yang baik dari para cendekiawan Muslim, Indonesia juga dapat menjadi standar pemikiran Islam di dunia.

“Tidak hanya untuk menjawab pertanyaan di Indonesia, tetapi juga untuk masalah global,” katanya.

Dia mencontohkan pandemi COVID-19 tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Akibat pandemi ini, terjadi perubahan praktik peradilan, seperti pemakaman jenazah korban COVID-19 dengan pembatasan kegiatan keagamaan.

Padahal, Ramdhani ingin membangun logika fiqh dan wushul fiqh melalui AICIS. Karena dia percaya bahwa agama tidak menghalangi perkembangan manusia, tetapi melindungi manusia. Agama juga membuat ibadah orang lebih mudah.

“Kalau ada hubungan, harus ada pertukaran ilmu dan sebagainya, kemudian ada kerjasama antar ahli yang berbeda dari bidang yang berbeda,” ujarnya.

Menurutnya, berdirinya agama merupakan bagian penting dari pembentukan peradaban. Dialektika yang dibangun didasarkan pada agama, sehingga fiqh menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang memenuhi kaidah. makashid syariahterutama dalam perlindungan jiwa atau Hifdzun nafs

“Di mana makashid syariah itu membutuhkan keselamatan hidup, kesehatan, ini adalah prioritas, dan dari sini kita memiliki dialektika untuk membahas isu-isu relevan yang akan dibahas, termasuk dalam kebijakan publik… Misalnya pembatasan aktivitas akibat COVID-19 dan sebagainya, bisa jadi sentuhannya (reaktualisasi fiqh) ke tempat ibadah,” ujarnya.

Konferensi AICIS ke-20 yang Diselenggarakan di Solo berfokus pada topik Islam dalam Konteks Global yang Berubah: Memikirkan Kembali Reaktualisasi Fiqh dan Kebijakan Publik.

Artikel sebelumyaYogyakarta akan melanjutkan vaksinasi di Malioboro
Artikel berikutnyaPresiden KSPI Puji Upaya Pemerintah Hadapi Pandemi COVID-19