Beranda Hukum Ketua BPK: Penting ditanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini

Ketua BPK: Penting ditanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini

Jakarta (ANTARA) – Firli Bakhuri, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (PKT), mengatakan pentingnya menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada anak sejak dini.

“Anak-anak harus selalu membudayakan nilai-nilai antikorupsi agar bisa melihat lebih jauh bahwa korupsi adalah fenomena yang memalukan, memalukan dan tercela, bukan budaya apalagi budaya warisan nenek moyang suatu bangsa,” ujarnya. Firli dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, Hari Anak Sedunia yang jatuh pada 20 November.

Firli mengatakan akar permasalahan korupsi di negeri ini bermula dari hilangnya nilai-nilai antikorupsi yaitu kejujuran, kesopanan, kepedulian, kemandirian, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian dan keadilan dari dalam, sehingga siapapun yang kehilangan nilai akan terkena virus korupsi.

<< Kita harus menanamkan nilai-nilai antikorupsi di hati dan pikiran anak-anak Indonesia sedini mungkin untuk menanamkan dalam diri mereka budaya memerangi korupsi, sehingga generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat, jujur ​​dan cerdas akan tampil di tanah air, berperilaku jujur, adil, sederhana, memegang teguh prinsip moral dan integritas, ”katanya. Menurutnya, hanya dengan menanamkan nilai-nilai antikorupsi, generasi bangsa ini bisa terbebas dari pengaruh buruk korupsi dan perilaku koruptif yang sudah mengakar di republik ini. PKC percaya bahwa pendidikan sangat penting, menjadi urat nadi dan elemen vital dalam upaya membentuk karakter dan integritas anak negara, sehingga semangat memerangi korupsi akan selalu hidup dan menyala dalam jiwa dan raga anak-anak Indonesia. Atas dasar itu, BPK memasukkan pendidikan sebagai salah satu ‘kepentingan nasional’ dalam Renstra 2019-2024 dan Roadmap 2022-2045 BPK,” kata Firli. PKC memandang pendidikan sebagai bagian sentral dari trisula pemberantasan korupsi, yang merupakan “urusan utama” PKC. Ia menjelaskan, melalui pemanfaatan jaringan pendidikan formal dan nonformal, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, PKC telah memasukkan unsur dan nilai pendidikan antikorupsi ke dalam generasi penerus bangsa sejak usia dini, dari remaja hingga dewasa, dalam rangka membentuk dan memelihara watak dan keutuhan setiap anak bangsa sedemikian rupa, agar tidak terjerumus pada perilaku korupsi. Selain itu, menurut Firli, keluarga berperan penting dalam proses pembentukan identitas anak dan pembentukan klaster antikorupsi. Dia berkata. Menurutnya, keluarga sebagai bagian dari pondasi masyarakat merupakan tujuan utama dari gerakan perubahan sosial budaya bagi masyarakat Indonesia agar tidak lagi melihat korupsi sebagai budaya, apalagi menjadi kebiasaan dalam segala cara hidup. di negara. republik ini. PKC percaya bahwa keluarga anti-korupsi dapat mempengaruhi orang, keluarga lain, dan memainkan peran sentral dalam mendorong budaya anti-korupsi di masyarakat. “Sekali lagi kami ingatkan bahwa menangkap pejabat korup adalah tugas PKC dan lembaga penegak hukum lainnya, tetapi mencegah korupsi sedini mungkin dengan memperkenalkan pendidikan anti korupsi untuk melindungi generasi penerus bangsa dari dampak korupsi. . dan perilaku koruptif adalah tugas mulia seluruh bangsa dan rakyat Indonesia,” ujar Fili.

Artikel sebelumyaScarlett Johansson memenangkan Penghargaan Akting di American Cinematheque
Artikel berikutnyaBavaslu Menghargai Simulasi Pemungutan Suara Penyederhanaan Pemungutan Suara