Beranda Hukum Ketua PKC: Tidak ada sistem persahabatan dalam praktik korupsi

Ketua PKC: Tidak ada sistem persahabatan dalam praktik korupsi

Kami meminta semua administrator publik untuk tidak menyalahgunakan hak ini.

Bandarlampung (ANTARA) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (BPK) R.I. Firli Bauri mengingatkan para kepala daerah agar tidak ada sistem yang bersahabat dalam praktik korupsi.

“Dalam upaya pencegahan korupsi, kita harus melakukan pendidikan budaya antikorupsi, kemudian juga memperbaiki sistemnya. Praktik korupsi tidak boleh ada sistem yang bersahabat,” kata Firli saat dimintai keterangan usai menyampaikan orasi akademik pada acara pengukuhan Pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung, Bandar Lampung, Sabtu.

Menurutnya, perkembangan korupsi dalam berbagai bentuk dan bentuknya saat ini terpantau. Namun, dapat disimpulkan bahwa korupsi muncul karena pengaruh keserakahan dan kekuasaan.

“Oleh karena itu, kami meminta semua penyelenggara publik untuk tidak menyalahgunakan hak ini,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa PKC memiliki prinsip, menjalankan tugas dasarnya secara transparan, akuntabel dan proporsional, serta menghormati hak asasi manusia.

“Tetapi siapa pun yang melakukan korupsi, selama ada cukup bukti, kami akan menyelidiki dan mengadili siapa pun itu,” katanya.

Di sisi lain, Ketua PKC melihat bahwa media berperan penting dalam membangun peradaban bangsa, serta dalam pelaksanaan administrasi publik antikorupsi.

“PKC sangat terbuka dengan mitra media untuk membangun dan memperluas kegiatan kami, terutama dalam memberantas korupsi,” katanya.

Menurutnya, media partner memiliki posisi strategis tidak hanya dalam menyebarluaskan informasi, tetapi juga dalam menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

“Saya pikir media sekarang memainkan peran sentral dalam menyebarkan budaya anti-korupsi,” katanya.

Artikel sebelumyaPenyataan "Pengacara" membantu masyarakat "terpelajar" hukum
Artikel berikutnyaBNPP mengirimkan tim ke depan untuk mengecek lokasi pelaksanaan Gatedutas.