Beranda Hukum KNTI: Tiga nelayan dari Kabupaten Bintan ditangkap polisi Malaysia

KNTI: Tiga nelayan dari Kabupaten Bintan ditangkap polisi Malaysia

Bintan (ANTARA) – Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Bintan Buyung Adli mengatakan tiga nelayan setempat ditahan polisi di Johor, Malaysia karena dianggap melanggar batas wilayah.

Ketiga nelayan itu – Agus Suprianto, 26, Sandy, 18, dan Andi, 18, kata Buyung, Senin di Bintan.

Buyung melaporkan hasil koordinasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM), karena rekan KNTI di Malaysia meyakini ketiganya adalah warga Galang Batang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

“Ketiganya sedang menjalani pemeriksaan dan tes COVID-19 di Johor,” katanya.

Buyung menjelaskan, kronologis kejadian bermula ketika tiga orang nelayan sedang mencari ikan menggunakan perahu 3 GT sekitar 52 mil di lepas pantai Pantai Kampung Mashiran, menuju barat pada Sabtu, 10 Juli 2021.

Mereka biasanya melaut selama dua sampai tiga hari dan kemudian kembali ke rumah.

Kemudian, pada Minggu 11 Juli 2021, kata Buyung, satu dari tiga orang mengirim email. ada apa Safarudin selaku pemilik kapal, bahwa mereka ditahan oleh polisi Malaysia.

“Mobil sebuah perahu mereka meninggal karena cuaca buruk kemudian pindah ke Pulau Aur di Johor dan langsung ditangkap polisi dari negara tetangga,” kata Buyung.

Buyung mengatakan pihaknya sedang berkoordinasi dengan Sektor Perbatasan Kabupaten Bintan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, sehingga permasalahan ketiga nelayan tersebut dengan cepat karena kasihan keluarga korban. para korban….

Saat ini, DKP Provinsi Riau juga telah mengirimkan surat kepada KJRI Johor untuk meminta pembicaraan diplomatik dengan pemerintah setempat, katanya.

“Jika ini terjadi karena kerusakan mesin, kami meminta ketiga nelayan itu segera kembali ke tanah air. Namun, jika ada unsur lain, misalnya tersangka narkoba, tentu kami tidak bisa membantu,” ujarnya.

KSTI juga meminta pemerintah memperhatikan nasib nelayan yang melaut di wilayah perbatasan dengan memberikan peta atau koordinat perbatasan agar nelayan memahami batas wilayah negara.

“Juga beri mereka komunikasi yang baik untuk berkomunikasi saat kapal rusak dan bisa masuk ke negara tetangga karena terbawa arus atau ombak,” kata Buyung.

Artikel sebelumyaAnggota DPR menyerahkan penghargaan kepada tenaga medis dan aparat keamanan
Artikel berikutnyaMulai 14 Juli hingga 14 Juli, lahan parkir RS Dr.Soetomo akan menjadi ruang perawatan.