Beranda Warganet Komisi IX DPR RI mengkaji informasi persiapan pelaksanaan proses KTT G20

Komisi IX DPR RI mengkaji informasi persiapan pelaksanaan proses KTT G20

Denpasar (ANTARA) – Rombongan Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Bali untuk mengkaji informasi dan mendapatkan gambaran lengkap mengenai rencana atau persiapan pelaksanaan protokol kesehatan, menyambut sejumlah agenda Ketua G20 Indonesia.

“Berdasarkan laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kepresidenan G20 dapat menarik wisatawan dari 20 negara anggota, organisasi internasional, dan negara undangan,” kata Charles Onoris, Wakil Ketua Komisi IX DPR. pemimpin di Denpasar, Jumat.

Kunjungan kerja Charles Honoris beserta jajaran Komisi IX DPR RI diterima Wakil Gubernur Bali Chokorda Oka Artha Ardhana Sukawati didampingi para pimpinan organisasi perangkat daerah dan pemangku kepentingan terkait.

“Diperkirakan WNA yang akan masuk ke Tanah Air sebagai bagian dari kegiatan ini diperkirakan 6.500 delegasi,” ujarnya.

Menurut Charles, mengingat tingginya mobilitas orang asing, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan kelancaran operasional dan mencegah munculnya hotspot baru penyebaran COVID-19.

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, Pemprov Bali memprioritaskan penyediaan fasilitas yang berkualitas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat bagi para delegasi yang akan menghadiri KTT G20 Series.

“Kami juga telah mendirikan rumah sakit khusus untuk memberikan pelayanan medis,” kata pria yang biasa disapa Cock Ace ini.

Setiap rumah sakit, lanjutnya, telah menyiapkan ruangan untuk perawatan pasien Covid-19 dengan kapasitas 2.340 tempat tidur isolasi intensif dan nonintensif.

Selain itu, Pemprov Bali juga mewajibkan destinasi pariwisata dan industri pariwisata bersertifikat CHSE (Clean, Health, Safety, Environment).

“Sejauh ini sudah ada 1.576 destinasi dan destinasi wisata yang memiliki sertifikat CHSE,” kata orang yang juga ketua PHRI Bali itu.

Dalam pertemuan dengan perwakilan rakyat tersebut, Kok Ace juga mengambil kesempatan untuk menyampaikan berbagai keluhan dari industri pariwisata yang saat ini berada dalam posisi yang sangat tertekan karena tidak adanya tanda-tanda kebangkitan sektor pariwisata yang signifikan.

“Perbatasan internasional yang resmi dibuka pada 14 Oktober 2021 telah memberikan angin segar bagi pelaku pariwisata di Bali. Namun faktanya kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pemulihan sektor pariwisata,” ujarnya. .

Pembukaan perbatasan internasional tidak mempengaruhi peningkatan jumlah kunjungan wisman ke Pulau Dewata.

Selama tahun 2021, pihaknya mencatat hanya 41 wisatawan asing yang tiba di Bali. Padahal sebelum pandemi, jumlah kunjungan mencapai 6,3 juta orang.

Artikel sebelumyaPTM 100 persen SMA/SMK di DIY diliburkan sementara
Artikel berikutnya31 kemungkinan kasus Omicron ditemukan di Sulawesi Utara