Beranda Nusantara Kota Batu diminta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya banjir bandang lagi

Kota Batu diminta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya banjir bandang lagi

Kami melihat perubahan penggunaan lahan.

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) – Wilayah Kota Batu diminta mewaspadai kemungkinan banjir bandang lagi setelah Perum Jasa Tirta I melakukan penelusuran di beberapa lokasi hulu Brantas di wilayah tersebut. …

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan di Batu, Jawa Timur, Kamis mengatakan, berdasarkan penelusuran drone di hulu Kali Brantas, terdapat sejumlah kawasan yang mengalami alih fungsi lahan.

“Kami melihat ada perubahan tata guna lahan dan juga terjadi penumpukan sedimen di tingkat rekahan. Jadi, ditambah dengan hujan yang cukup deras, akan terjadi limpasan yang membawa kayu dan material lainnya,” kata Raymond. …

Raymond menjelaskan, pihaknya melakukan pencarian di kawasan Pusung Lading yang menjadi titik awal untuk mencari tahu penyebab banjir bandang tersebut. Ada daerah lain dalam pencarian yang memiliki karakteristik yang sama dengan Pusung Lading.

Ini adalah kawasan Glagah Vangi yang terletak di sebelah barat Pusung Lading. Perubahan tata guna lahan juga terdeteksi di kawasan Glagakh Vangi yang dipantau oleh grup Jasa Tirta I.

“Kami mendapat hasil dari drone. Kami sampai pada kesimpulan bahwa memang ada perubahan tata guna lahan, tetapi ada juga kejadian longsor,” ujarnya.

Menurutnya, longsor yang terjadi tidak hanya menjadi penyebab bencana banjir bandang. Namun, saluran drainase alami juga mengandung endapan tanah, batuan dan puing-puing (sampah organik), yang kemudian dapat terbawa bersama oleh arus air yang kuat.

Ia menambahkan, kondisi natural breaker di blok Glagah Wangi hampir sama dengan di kawasan Pusung Lading. Jalur patahan di blok Glagah Wangi berbeda dengan jalur Pusung Lading yang diterjang banjir bandang.

Ditambahkannya, mengingat kondisi lahan yang sudah mengalami perubahan, tentunya perlu dikembalikan secara perlahan. Namun, langkah-langkah untuk memulihkan kondisi situs tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

“Kondisi tanah yang sudah berubah tentunya harus dikembalikan secara perlahan. Artinya butuh usaha yang tidak bisa dilakukan dalam satu hari,” imbuhnya.

Yasa Tirta I juga mengamati data tutupan lahan di hulu Sungai Brantas. Menurut data sebelumnya, pada musim kemarau luas vegetasi yang ditumbuhi tanaman bervariasi antara 19-25%.

“Idealnya ini di atas 30 persen, tapi data yang kami miliki antara 19-25 persen. Karena area tutupan lahan difoto dari citra satelit. Vegetasi sangat dipengaruhi oleh musim,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, kewaspadaan perlu ditingkatkan, khususnya di wilayah Kota Batu, agar bencana alam akibat banjir bandang yang terjadi pada Kamis (11,04) dan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia tidak terjadi. terulang lagi.

“Saat kita menghadapi bencana, kewaspadaan bisa menjadi kata kuncinya. Jadi di sisi pemicu alam yang pernah mengalami banjir bandang, masih ada saklar lain yang belum mengalami banjir bandang,” ujarnya.

Hasil dari lapangan Yasa Tirta I akan ditransfer ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, yang diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya restorasi tata guna lahan dan menentukan kebijakan pencegahan bencana ke depan.

“Ini akan kami serahkan ke BBWS, termasuk Pemprov Jatim. Karena ini masalah bersama, tidak satu pihak, dan diperlukan kerjasama,” ujarnya.

Banjir bandang di kawasan Batu pada Kamis (11/4) menewaskan tujuh orang karena terseret arus atau tertimbun material banjir. Tujuh lainnya aman dan sehat.

Selain itu, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batu, 51 rumah rusak dan delapan di antaranya hancur diterjang banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB.

Selain itu, 32 rumah lainnya terendam lumpur akibat bencana alam akibat banjir bandang. Banjir bandang menimpa 124 keluarga. Kemudian 46 kendaraan roda dua dan 11 kendaraan roda empat rusak.

Artikel sebelumyaPantai Pasir Dua, Keindahan Tersembunyi di Jayapura
Artikel berikutnyaChef William Gozali jarang memasak di rumah