Beranda Warganet Melindungi kehidupan di perlintasan sebidang

Melindungi kehidupan di perlintasan sebidang

Cirebon (ANTARA). Kendaraan pulang-pergi di perlintasan KA Desa Suci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, padat pengunjung, terutama pada jam-jam pemberangkatan dan pulang kerja.

Perlintasan kereta api tanpa sekat tergolong rawan, terutama sebelum memasuki rel kereta api, kontur jalan yang berkelok dan menanjak sehingga menghalangi jarak pandang pengemudi jika kereta hendak melintas.

Meski cukup rawan, perlintasan tersebut tidak dijaga petugas berseragam resmi. Hanya ada beberapa warga yang secara sukarela mengatur lalu lintas kendaraan.

Andi, warga Desa Suci, Kec MunduPemkab Cirebon bersedia meluangkan waktu untuk menjaga perlintasan kereta api agar tidak terjadi kecelakaan di lokasi ini.

Bersama kedua temannya, Andy dengan cepat mengatur pengemudi dari kedua arah ketika kereta hendak lewat. Perintah Andy dan dua temannya menuruti pengendara mobil dan pengendara motor yang hendak melintas.

Sejak lama bertugas di perlintasan tersebut, petugas pengatur lalu lintas berseragam itu sangat familiar dengan jadwal kereta api di kawasan rawan tersebut. Pengetahuan mereka membantu mencegah kematian ketika pengemudi melintasi rel kereta api.

Bukan hal yang aneh bagi pengendara untuk membagikan hadiah informal, tetapi beberapa hanya melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Tidak peduli apa yang dikatakan orang yang lewat, ketiga penjaga keamanan swasta tidak keberatan.

Kecelakaan penyeberangan

Sepanjang jalur kereta api di wilayah kerja daop 3 Cirebon, terdapat 164 perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, hanya 99 perlintasan yang dijaga.

Pemeliharaan perlintasan kereta api dilakukan oleh KAI di 55 titik, 22 perlintasan oleh pemerintah daerah dan 22 titik lainnya oleh organisasi masyarakat.

Sisanya 65 perlintasan sebidang tersebar di seluruh wilayah. daop 3 Cirebon tanpa proteksi dan door stop.

Manajer KAI daop 3 Cirebon ya Hanapi melaporkan bahwa untuk periode Januari-September 2022, jumlah kecelakaan di perlintasan sebidang sebanyak sembilan kecelakaan yang tersebar di seluruh wilayah kerjanya.

Yang terbaru terjadi pada 6 Agustus 2022. Kemudian minibus tersebut ditabrak kereta api saat melintasi perlintasan rel kereta api tanpa sekat dan pengaman sehingga mengakibatkan empat orang tewas.

Kecelakaan ini bukan yang pertama, namun sudah terjadi berkali-kali, sehingga harus dilakukan upaya serius untuk meminimalisirnya agar nyawa masyarakat tidak melayang di perlintasan kereta api.

Pada tahun 2019 KAI daop 3 Cirebon mencatat jumlah kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang mencapai 22 kecelakaan. Pada tahun 2019 atau sebelum pandemi COVID-19, kereta melewati wilayah ini setiap hari daop 3 Cirebon melakukan 192 perjalanan.

Kemudian pada tahun 2020, ketika pergerakan orang dibatasi, jumlah kecelakaan dikurangi menjadi sembilan insiden, dan pada tahun 2021 menjadi delapan.

Sedangkan pada tahun 2022, ketika intensitas perjalanan dan pergerakan orang tidak lagi dibatasi, seperti pada 2 tahun sebelumnya, jumlah kecelakaan di perlintasan sebidang akan meningkat lagi. Itu bahkan tidak terjadi sembilan kali dalam setahun.

menyeberang

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Pasal 94 menyatakan bahwa (1) untuk keselamatan lalu lintas kereta api dan pengguna jalan, perlintasan sebidang yang tidak berizin harus ditutup. (2) Penutupan perlintasan sebidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah.

Petugas menutup sebidang tanah ilegal di kawasan Daop 3 Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Ho-Humas KAI Daop 3 Cirebon

PT KAY daop 3 Cirebon mencatat data dari 164 perlintasan kereta api, 72 di antaranya tidak dijaga dan tidak memiliki gerbang, sehingga masyarakat harus lebih waspada saat melintas. Pengguna jalan umum harus mematuhi rambu-rambu jalan yang dipasang di setiap persimpangan.

Pemeliharaan dan penutupan perlintasan sebidang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang perkeretaapian.

Namun, aturan tersebut belum dapat diterapkan secara optimal. Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon bahkan menyatakan belum memiliki anggaran untuk pemeliharaan perlintasan sebidang.

Kepala Dinas Keamanan Perhubungan Kabupaten Cirebon Edi Suzendi mengatakan penyeberangan ruas kereta api di Kabupaten Cirebon memang menjadi kewenangan pemerintah daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.

Namun, dia mengakui bahwa pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya melaksanakan keputusan tersebut, karena tidak ada anggaran untuk pemeliharaan perlintasan kereta api.

Ada 60 perlintasan kereta api di Kabupaten Cirebon, namun hanya 20 persen yang dijaga dan sisanya tidak dijaga.

Tidak ada anggaran untuk pemeliharaan perlintasan sebidang karena para pemangku kepentingan, terutama DPR dan pemerintah daerah, belum tahu persis siapa yang harus bertanggung jawab atas perlintasan sebidang.

Karena mereka menganggap perlintasan kereta api berada di bawah kewenangan KAI sebagai operator, padahal itu kewenangan pemerintah daerah. Oleh karena itu, PT KAI perlu lebih aktif membawa regulasi menjadi perhatian pemerintah daerah dan DPRR.

Hingga saat ini, KAI lebih banyak mendistribusikan aturan di Dishub. Agar lebih efektif, PT KAI perlu berkomunikasi dan berkoordinasi langsung dengan kepala daerah dan PDRD agar pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan perlintasan sebidang.

PT KAY daop 3 Cirebon terus berupaya menekan angka kecelakaan baik di perlintasan kereta api maupun rel kereta api.

Sosialisasi dilakukan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di rel kereta api karena dapat membahayakan diri dan berpotensi melanggar hukum.

Pelarangan segala aktivitas di jalur kereta api karena banyaknya korban jiwa. Satpam PT KAI akan menertibkan warga yang beraktivitas di rel kereta api demi keamanan bersama.

Selain melarang kegiatan, KAI juga akan menindak tegas siapa saja yang melempar batu ke dalam kereta api atau taruh benda di rel, karena tindakan ini sangat berbahaya bagi kecepatan kereta api.

Pengguna jalan umum juga selalu diminta untuk selalu waspada saat hendak melewati perlintasan sebidang. Anda harus menjaga kebiasaan baik melihat ke kiri dan ke kanan sebelum melintasi persimpangan untuk memastikan tidak ada kereta yang lewat.

Semua itu perlu dilakukan agar tidak ada lagi yang meninggal di perlintasan kereta api. ***3***

Artikel sebelumyaRI Beri Bantuan US$1 Juta untuk Korban Banjir di Pakistan
Artikel berikutnyaPresiden berencana membuka Masjidil Haram "Shaffour Hairaat" di Sofia