Beranda News MPR mengajak generasi muda untuk bisa memanfaatkan media sosial

MPR mengajak generasi muda untuk bisa memanfaatkan media sosial

Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengajak generasi muda untuk belajar menggunakan media sosial di tengah penyebaran informasi penipuan dan pencemaran nama baik di dunia maya.

“Mari kita manfaatkan media sosial dengan baik. Saat ini banyak berita bohong di media sosial, banjir fitnah, tapi kita harus bisa menyaring informasi itu, kalau tidak maka akan menjadi masalah bagi negara ini,” kata Jazilul Fawayd atau Gus Jazil dalam keterangannya di Jakarta, Minggu. .

Demikian disampaikan Gus Jazil saat sosialisasi 4 Pilar MPR RI di SMA Bina Putera, Copo, Serang, Banten, Jumat (8/10).

Dikatakannya, di era modern ini, kehidupan masyarakat tidak lepas dari digitalisasi, misalnya perdagangan, pembelajaran, transaksi bahkan segala jenis aktivitas tidak bisa lepas dari dunia digital.

Gus Jazil menekankan bahwa guru di sekolah harus mengajarkan literasi digital kepada siswanya, misalnya bagaimana menggunakan teknologi informasi dengan benar, terutama media sosial.

“Bagaimana mereka bisa memilah informasi palsu, hoax, dan informasi yang bermanfaat bagi anak-anak, ini perlu bimbingan dari guru,” ujarnya.

Menurutnya, jejaring sosial seperti dua sisi pisau, yang bisa berdampak positif di satu sisi, dan negatif di sisi lain.

Oleh karena itu, kata dia, semua pihak harus mengarahkan anak-anak untuk menjadikan media sosial sebagai sesuatu yang positif.

“Karena saat ini anak muda menggunakan media sosial di mana-mana. Kita harus mengatur penggunaannya dan menentukan konten apa yang harus dibuka,” ujarnya.

Dihadapan siswa SMA Bina Putera, Gus Jazil juga menyampaikan bahwa empat pilar NKRI NKRI yaitu Panchasila, Bhinek Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 merupakan pilar yang menopang negara.

Menurutnya, jika empat pilar runtuh, Indonesia juga demikian, jadi tugas bersama kita untuk memperkuat empat pilar.

“Panchasila mengandung nilai-nilai dan menjadi way of life, tetapi tidak harus kita wujudkan,” ujarnya.

Gus Jazil mengatakan bahwa perasaan Panchashila adalah gotong royong, namun kini berangsur-angsur terlupakan, diganti dengan kata “demokrasi”.

Ia percaya bahwa saat ini Gotong Royong seolah-olah hanya menjadi sebuah pelayanan publik, meskipun itu adalah kalimat suci milik bangsa ini dan dapat menggabungkan pandangan agama, suku, dan adat dalam satu kata, yaitu gotong royong.

Menurutnya, sering terjadi bentrokan antara agama dan negara, atau antara Islam dan Panchashila, meskipun ini adalah sesuatu yang sudah menjadi satu.

“Kita hanya perlu itu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam aktivitas kita, dalam membangun hubungan dan mewujudkan apa yang kita perjuangkan,” katanya.

Menurutnya, dengan berkembangnya teknologi informasi diperlukan kreativitas yaitu bagaimana menyebarkan 4 pilar tersebut melalui media digital, game, cerita atau penggunaan gambar animasi, sehingga lebih relevan dengan generasi muda.

Artikel sebelumyaINFID Tuntut Transparansi Penyidikan Dugaan Kriminalisasi Petani Campara
Artikel berikutnyaCNBLUE siap kembali pada 20 Oktober tahun depan