Beranda News Peneliti BRIN: Bentuk Capres Pengaruhi Elektabilitas Capres 2024

Peneliti BRIN: Bentuk Capres Pengaruhi Elektabilitas Capres 2024

Jakarta (ANTARA) – Senior Fellow di Pusat Kajian Kebijakan Badan Inovasi dan Penelitian (BRIN), Firman Noor mengatakan, sosok calon wakil presiden (kavapres) akan sangat mempengaruhi elektabilitas calon presiden (capres) di Indonesia. Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

“Kehilangan calon wakil presiden akan mengurangi elektabilitas seorang tokoh potensial,” kata Firman dalam presentasi di panel publik bertajuk “Prakiraan POLITIK INDONESIA: Prakiraan Demokrasi dan Dinamika Politik 2022” yang disiarkan secara streaming di YouTube. saluran Pusat Kajian Kebijakan – BRIN, pemantauan dari Jakarta, Rabu.

Di sisi lain, katanya, orang yang nyata biasa-biasa saja atau mereka yang biasa-biasa saja tetapi memiliki sosok wakil presiden yang mumpuni mungkin memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pemilihan umum (pemilu). Bahkan, dia mendapat banyak manfaat dari pilihannya sebagai wakil presiden.

Firman mengatakan ada tiga capres unggulan pada Pilpres 2024 di bursa, yakni Ganjar Pranovo, Prabowo Subianto, dan Anis Baswedan.

“Banyak nama yang beredar, tapi yang cukup konsisten masuk tiga besar adalah Ganzhar, Prabowo dan Anis,” ujarnya.

Pada 2022 akan semakin sengit manuver persaingan antar parpol, mengingat pada September 2023 akan ditentukan nama-nama calon presiden dan wakil presiden.

Berdasarkan tren saat ini, para pemimpin partai bersaing untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas tokoh, dan bukan secara ideologis. Tren ini bisa dilihat pada beberapa tokoh partai, seperti Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (NAP) Muhaymin Iskandar atau yang akrab disapa Chak Yiming, yang mulai vlogging untuk mendongkrak popularitasnya.

“Airlangga (Ketua Umum Partai Golkar, red.) ada di mana-mana. Puan (Politisi PDI-P, Red.) Fotonya bertebaran di mana-mana. Kami mulai membangun jaringan dan relawan,” katanya.

Dikatakannya, akan ada gerakan atau manuver politik terkait pembentukan partai baru dan pendaftarannya. Menurutnya, jumlah partai di Indonesia tidak berkurang.

“Sangat sulit bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan jumlah partai sedikit, karena masih banyak partai. Misalnya Partai Gelora, PKN, Prima, Partai Buruh, Partai Rakyat dan sebagainya,” kata Firman.

Artikel sebelumyaPalsu! Jokowi Hadiri Tahun Baru Imlek 2022 Tanpa Masker
Artikel berikutnyaPemkab Batang Berikan Penghargaan Sekolah Adiviyat kepada Delapan SD