Beranda Nusantara Penerapan energi B30 untuk Euro4 perlu dipelajari lebih detail detailed

Penerapan energi B30 untuk Euro4 perlu dipelajari lebih detail detailed

Jakarta (ANTARA) – Kepala Pusat Termodinamika Motor dan Teknologi Propulsi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Heri Evraja menyatakan, penerapan energi B30 untuk teknologi Euro4 memerlukan kajian khusus yang lebih detail, terutama terkait untuk sistem pembuangan setelah perawatan

Heri, dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat di Jakarta, mengatakan penerapan energi B30 di Indonesia tentunya telah melalui kajian yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Rekomendasi penelitian dilaksanakan dengan menetapkan standar baru untuk sifat biodiesel, penanganan dan varians.

Menurut Hyeri, performa mobil secara keseluruhan tidak berubah signifikan dari B20 ke B30. Namun penerapan energi B30 untuk teknologi Euro4 membutuhkan kajian khusus yang lebih detail, terutama terkait penelitian. sistem pembuangan setelah perawatan

Kasubdit Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber Bergerak, Direktorat Jenderal Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ratna Kartikasari mengatakan, pemanfaatan bioenergi khususnya B30 dapat meningkatkan jumlah gas rumah kaca. (GRK) pengurangan emisi dibandingkan dengan B20.

Pengembangan biodiesel diharapkan dapat memenuhi standar emisi sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Jenis Kendaraan Baru. Kategori M, N dan O atau lebih tinggi, yang dikenal sebagai standar emisi Euro IV.

Standar emisi Euro adalah standar yang digunakan oleh negara-negara Eropa untuk menentukan kualitas udara di negara-negara Eropa. Semakin tinggi standar Eropa yang ditetapkan, semakin rendah batas kandungan gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, hidrokarbon volatil, dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia dan lingkungan.

Menurut standar Euro IV, kandungan nitrogen oksida dalam kendaraan yang menggunakan bensin tidak boleh melebihi 80 miligram per kilometer, 250 miligram per kilometer untuk mesin diesel dan 25 miligram per kilometer untuk mesin diesel. partikel padat.

Ketua Dewan Penasehat Manajemen Perubahan Iklim Sarvono Kusumaatmaja mengatakan penggunaan B30 merupakan langkah awal reformasi energi karena Indonesia menghadapi berbagai pilihan kebijakan energi untuk mempertahankan bahan bakar fosil.

Dengan kegigihan dan komitmen semua pihak, reformasi energi akan dilakukan dan Indonesia dapat menjadi negara yang memberikan kontribusi signifikan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, katanya.

Artikel sebelumyaPT Bumi Andalas Permai Bentuk Masyarakat Pemadam Kebakaran di OKI
Artikel berikutnyaAktivitas Perubahan Cuaca Sumatera Selatan-Jambi Akan Segera Berakhir