Beranda Nusantara Pengamat mengatakan bahwa daya dukung tanah merupakan aspek penting dalam pengembangan ICH.

Pengamat mengatakan bahwa daya dukung tanah merupakan aspek penting dalam pengembangan ICH.

Aspek geologi harus diketahui sejak awal, sehingga dilakukan pemahaman tentang daya dukung tanah, keadaan tanah, dilakukan “soil test”.

Jakarta (ANTARA) – Faktor geologi dan daya dukung tanah menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembangunan ibu kota negara (IKN) nusantara, mengingat sebagiannya merupakan lahan gambut, kata Universitas Trisakti dalam keterangannya. kolumnis perencanaan kota Yayat Supriatna.

“Aspek geologi harus diketahui sejak awal, sehingga memahami daya dukung tanah, kondisi tanah, sampel tanah. Jadi ada daerah yang tidak direkomendasikan untuk dikembangkan,” kata Yayat saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Dikatakannya, dalam merancang IKN Nusantara, hal ini diperhitungkan saat merancang ruang terbuka hijau di sebagian besar kawasan. Direncanakan lebih dari 75 persen kawasan hijau akan berada di IKN Nusantara.

Artinya, wilayah-wilayah yang sebenarnya tidak layak untuk dikembangkan, dengan daya dukung tanah yang tidak memadai, tidak akan dibuka.

“Kalaupun dibangun juga harus memperhatikan aspek daya dukung tanah, karena pada akhirnya akan berdampak pada pembangunannya,” kata Yayat.

Sementara itu, pengawas tata kota dan direktur eksekutif Nirvono Joga Center for Urban Studies menyatakan bahwa Masterplan IKN yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang IKN menetapkan 75 persen ruang hijau atau ruang terbuka hijau harus diamankan.

“Hal ini sejalan dengan tujuan menjaga ekosistem IKN tetap konsisten dengan prinsip keberlanjutan,” kata Nirvono saat menjawab pertanyaan dari ANTARA melalui aplikasi pesan Jakarta, Senin.

Dikatakannya, pengembangan wilayah untuk bangunan tidak boleh dilakukan pada wilayah yang dialokasikan untuk lansekap, termasuk yang termasuk dalam kategori rawa gambut.

“Untuk itu, dalam masterplan tersebut, 25 persen lahan yang bisa dikembangkan di ICH harus diidentifikasi di mana saja sehingga 75 persen kawasan hijau bisa dilestarikan,” ujarnya.

Berdasarkan data tutupan lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 42,31 persen atau 108.362,91 ha kawasan IKN Nusantara berupa tutupan hutan, mangrove (bakau) dan hutan rawa (gambut).

Sisanya 29,18% adalah perkebunan, 11,65% semak belukar, tanaman campuran, 3,13% air, 2,09% tanah bebas atau gundul, 1,61% lahan kering atau ladang, 0,94% transportasi dan penggunaan lainnya. , pertambangan 0,88%, bangunan atau pekerjaan umum 0,37% , dan sawah 0,34%.

IKN Nusantara sendiri meliputi wilayah seluas 256.142 hektare dan perairan seluas 68.189 hektare, sesuai UU IKN.

Artikel sebelumyaKebiasaan Revalina S sebelum Ramadhan
Artikel berikutnyaTim Dispatch Polda Aceh Bakar Sumur Minyak Tradisional