Beranda Nusantara Penggunaan air secara besar-besaran diyakini meningkatkan kemungkinan tenggelamnya Jakarta.

Penggunaan air secara besar-besaran diyakini meningkatkan kemungkinan tenggelamnya Jakarta.

Penggunaan sumber air secara besar-besaran menyebabkan penurunan tanah

Jakarta (ANTARA) – Utusan Khusus Gubernur DKI Jakarta untuk Perubahan Iklim Irvan Pulungan mengatakan salah satu faktor yang meningkatkan kemungkinan tenggelamnya Jakarta akibat dampak perubahan iklim adalah penggunaan air secara masif yang mengarah ke daratan. penurunan.

“Ada beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan Jakarta terkena banjir, yaitu letak geografis DKI Jakarta yang sebenarnya 40 persen wilayahnya di bawah permukaan laut, tingginya tingkat urbanisasi yang menyebabkan beban pembangunan, dan masifnya penggunaan air. sumber air yang menyebabkan turunnya permukaan tanah.” – kata Irvan saat diskusi. virtual Ancaman Tenggelamnya Kota Pesisir Jawa Utara, Apa Langkah Mitigasinya? di Jakarta, Kamis.

Irvan mengatakan dalam upaya mengatasi masalah ini, Pemprov DKI Jakarta telah mengembangkan sejumlah program strategis, terutama terkait penanggulangan bencana terkait perubahan iklim, pengendalian banjir dan perlindungan pantai, serta memperlambat penurunan tanah.

Untuk menanggulangi bencana terkait perubahan iklim, pemerintah DKI mengeluarkan sejumlah kebijakan/peraturan terkait seperti rencana aksi daerah pengurangan emisi gas rumah kaca, bangunan hijau, perlindungan dan pengelolaan pohon, serta kelompok kerja dan adaptasi mitigasi bencana iklim.

Upaya pengendalian perubahan iklim meliputi zona rendah emisi di kawasan Kota Tua, peningkatan kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau, kerjasama antar pemerintah daerah hulu dalam pengelolaan daerah tangkapan dan daerah tangkapan, serta peningkatan penggunaan air bersih. pelayanan melalui air minum bersubsidi.

Sementara itu, upaya yang telah dilakukan terkait pengendalian banjir dan perlindungan pantai antara lain pengerukan sungai untuk memberi ruang tambahan bagi aliran air, sumur resapan, penanaman mangrove di pesisir Jakarta dan Kepulauan Seribu, membangun tanggul pantai, meningkatkan adaptasi penduduk. bencana alam yang berhubungan dengan banjir. , dan penyusunan rencana tanggap darurat, banjir dan garis komando dalam pelaksanaan evakuasi banjir.

Irvan berbicara tentang perlunya inovasi dalam pengelolaan perkotaan dan pendekatan yang lebih tertutup terhadap pengelolaan sumber daya.

Pemerintah DKI Jakarta juga mendorong aksi bersama para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat maupun daerah, organisasi masyarakat sipil dan akademisi, untuk memerangi krisis iklim melalui pembentukan Kelompok Kerja Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.

Di sisi lain, melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 57 Tahun 2021, Pemprov DKI Jakarta memberikan subsidi air bersih untuk mendorong perluasan layanan air bersih bagi warga Jakarta, yang pada gilirannya dapat membantu mengurangi penggunaan air tanah, sehingga berdampak pada penurunan lahan. penurunan tanah di Jakarta.

Artikel sebelumyaMendagri berasumsi bahwa kampanye pemilu 2024 akan berlangsung selama 4 bulan.
Artikel berikutnyaPresiden Jokovi Pertimbangkan Vaksinasi Door-to-Door di Delhi Serdang