Beranda Hukum Penyataan "Pengacara" membantu masyarakat "terpelajar" hukum

Penyataan "Pengacara" membantu masyarakat "terpelajar" hukum

Tujuh dari 10 orang di Indonesia masih buta huruf.

Jakarta (ANTARA). Sejumlah praktisi hukum telah meluncurkan aplikasi bantuan hukum bernama Jago Hukum yang dirancang untuk membantu semua lapisan masyarakat memahami dan memahami (literasi) hukum agar mampu melawan ketidakadilan.

Menurut CEO Jago Hukum Christian Samosir, 80 persen warga negara Indonesia masih buta hukum, keadaan inilah yang menyebabkan Nenek Mina mencuri 3 biji kakao atau menjadi korban perampokan sebagai tersangka.

“Tujuh dari 10 orang di Indonesia resmi masih buta,” kata Christian dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu di Jakarta.

Aplikasi Jago Hukum diluncurkan pada Senin (18 April) lalu di Jakarta.

Sepertinya aplikasi pengobatan jarak jauhdimana pasien dapat berkonsultasi dengan sejumlah dokter, dan aplikasi Jago Hukum juga secara teknis bekerja.

“Aplikasi ini interaktif selama 1×24 jam,” ujarnya lagi.

Aplikasi Jago Hukum juga menjadi jawaban bagi para praktisi hukum yang belum berkesempatan berkontribusi di forum terkait.

“Jadi nanti agak pasar untuk semua pengacara,” katanya.

Apa saja yang akan didapatkan komunitas dalam aplikasi Jago Hukum, Christian menjelaskan, selain fitur live chat dan panggilan videoaplikasi dengan slogan “Hukum untuk semua orang” menawarkan layanan gratis atau gratis untuk orang yang ingin mengetahui hak hukumnya.

Bidang yang dicakup sangat lengkap dan bervariasi mulai dari pidana, perdata, notaris hingga penerjemah tersumpah. Bahkan, Jago Hukum menggandeng Tridarma LBH Indonesia sebagai mitra.

Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan sepenuhnya kehadiran aplikasi ini tanpa takut dan malu dengan keterbatasan keuangan. Jago Hukum dapat diunduh untuk semua ponsel Android dan iOS dari Google. Toko mainan.

“Jago Hukum merupakan pasar legal pertama di Indonesia,” ujarnya.

Kasus Nenek Minah di Jawa Tengah, atau korban perampokan sebagai tersangka NTB, atau Mohamad Irfan Bahri, korban pencurian ponsel yang menjadi tersangka penguntit di Bekasi, melatarbelakangi lahirnya aplikasi Jago Hukum.

Christian mengatakan beberapa praktisi hukum telah berinisiatif meluncurkan aplikasi layanan bantuan hukum bernama Jago Hukum berdasarkan kasus ketidakadilan atau penyimpangan dalam proses peradilan di Indonesia.

Apalagi, praktikan pengacara melihat masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan bantuan hukum. Penyebabnya bisa banyak, salah satunya adalah faktor ekonomi. Belum lagi masyarakat cenderung acuh, malu, atau enggan mengadukan masalah hukum yang dihadapinya.

“Misalnya kasus ketenagakerjaan, perbuatan asusila, pernikahan, masalah pinjaman online,” kata Christian.

Christian menambahkan, aplikasi Jago Hukum menjadi solusi bagi masyarakat yang mendambakan jasa konsultasi dengan harga terjangkau.

“Pengacara yang bergabung dengan platform ini harus bersertifikat, ini wajib,” kata Christian.

Artikel sebelumyaF-Gerindra merekomendasikan untuk menyelamatkan P.T. Garuda.
Artikel berikutnyaKetua PKC: Tidak ada sistem persahabatan dalam praktik korupsi