Beranda Nusantara Penyelamatan ibu dan bayi orangutan di Kotim menjadi perhatian warga

Penyelamatan ibu dan bayi orangutan di Kotim menjadi perhatian warga

Sampit (ANTARA) – Penyelamatan induk dan bayi orangutan di Desa Ayahngang Raya, Kecamatan Mentawa Baru, Ketapang, Kabupaten Kotavaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, oleh Badan Perlindungan Sumber Daya Alam (BKSDA), menarik perhatian warga sekitar.

“Selama tiga bulan terakhir kami sangat cemas saat bekerja. Warga di sini kebanyakan petani karet, terutama perempuan yang takut diserang orangutan,” kata Amir Mahmoud, warga Desa Ayangang Raya, Sabtu. …

Penyelamatan dua spesies langka dengan nama latin Pongo pygmaeus ini dilakukan oleh BKSDA bekerjasama dengan Orangutan Foundation International (OFI). Tim BKSDA yang ditunjuk berasal dari Kantor Divisi Lingkungan II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun, Kabupaten Cotavaringin Barat.

Sehari sebelumnya, tim BKSDA Kalimantan Tengah, Pos Sampit, mengunjungi lokasi untuk melacak keberadaan dua orangutan. Kemudian hasil pantauan tersebut dilaporkan ke Pangkalan Bun, sehingga bisa dikirim tim untuk melakukan operasi penyelamatan.

Saat rombongan tiba, induk dan anak orangutan tersebut berada tak jauh dari lokasi yang sama. Petugas kesulitan menembakkan peluru pereda nyeri karena posisi kedua orangutan di pohon yang banyak cabang dan rantingnya.

Petugas mengoleskan bius ke induk orangutan sebanyak tiga kali. Setelah menunggu sekitar tiga jam, orangutan tersebut kehilangan kesadaran dan terjatuh sehingga bisa dievakuasi. Bayi orangutan yang memeluk induknya juga dalam keadaan sehat.

Induk orangutan berusia sekitar 15 tahun dengan berat 48 kilogram, dan anak laki-laki diperkirakan berusia dua tahun dengan berat delapan kilogram. Menurut hasil pemeriksaan awal oleh dokter, tidak ditemukan bekas luka di tubuh orangutan tersebut.

Pada Sabtu sore, induk dan anak orangutan diserahkan ke kantor wilayah Seksi Konservasi II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun. Dokter mengambil sampel darah dan melakukan pemeriksaan luar.

“Nantinya berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh akan diketahui apakah kedua orangutan tersebut bisa dilepasliarkan sekaligus atau harus direhabilitasi terlebih dahulu sampai benar-benar siap dilepasliarkan,” kata Komandan BKSDA tersebut. penjaga. untuk Pos Sampit Kalimantan Tengah, Muriancia.

Jika kondisinya dianggap sudah siap, maka orangutan tersebut akan dilepasliarkan ke dalam hutan, tempat habitat alami satwa yang dilindungi itu berada. Ada dua lokasi yang biasa digunakan untuk pelepasliaran, yaitu Taman Nasional Tanjung Puting dan Suaka Margasatwa Lamandau.

Masyarakat mengucapkan terima kasih kepada BKSDA yang telah menyelamatkan dan memindahkan orangutan tersebut. Penyelamatan ini dianggap sebagai pilihan terbaik bagi orangutan dan masyarakat setempat. *

Artikel sebelumyaSolo meningkatkan identitas kota budaya dengan tampil di Java Festival.
Artikel berikutnyaJumlah pasien COVID-19 yang berhasil sembuh di Sumut naik menjadi 101.314