Beranda Hukum Perampok bank senilai Rp 1,4 miliar divonis tujuh tahun penjara

Perampok bank senilai Rp 1,4 miliar divonis tujuh tahun penjara

Jumlah total transfer yang dilakukan oleh Termohon dari bulan Juni sampai dengan November 2020 adalah sebesar Rs 1.455.150.000.

Denpasar (ANTARA) – Perampok Bank BPR Lestari Cabang Benoa Denpasar dengan nilai Rp 1.455.150.000 bernama I Gede Adnya Susila divonis jaksa tujuh tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali.

Menuntut pidana penjara terhadap terdakwa I Gede Adnya Susil selama tujuh tahun, dikurangi selama terdakwa dalam tahanan sementara, dan denda sebesar Rp. Faizal saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis.

Ia mengatakan, tersangka dalam kasus ini dijerat dengan dua pasal. Pertama, pasal 32 (2) jo pasal 48 (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang keterangan dalam dakwaan pertama.

Kedua, Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dalam dakwaan kedua.

JPU menjelaskan dalam perkara ini, terdakwa telah bekerja di kantor BPR Lestari Benoa Denpasar sejak 9 April 2018 sebagai pelatihan manajemen, dan sejak 4 April 2019, ia ditunjuk sebagai petugas pemasaran kredit untuk kantor BPR Lestari Benoa. di Denpasar.

Sedangkan korban bernama Ya Mad Darmavan merupakan klien kantor BPR Lestari yang bergabung sejak 8 Desember 2016.

Kejadian bermula sekitar tanggal 18 Juni 2020, saat terdakwa menghubungi istri I Made Darmawan dan menyuruhnya untuk bertemu. Kemudian, pada tanggal 19 Juni 2020 sekitar pukul 13.00 WITA, terdakwa mendatangi loket I Made Darmawan dan memberitahukan perlunya mengaktifkan produk layanan perbankan yaitu aplikasi Lestari Mobile.

Terdakwa sendiri mengunduh aplikasi tersebut menggunakan ponsel I Made Darmawan dan memintanya memasukkan alamat email.

Setelah mengaktifkan aplikasi, terdakwa mengembalikan handphone korban. Namun, korban tidak mengetahui apakah mobile banking aktif atau tidak, karena saat itu transaksi belum dilakukan.

Pada saat yang sama, responden juga mengunduh aplikasi Lestari Mobile. Kemudian selesaikan proses aktivasi di handphone korban dan di handphone terdakwa sendiri secara bersamaan dengan mengisi data nasabah berupa nomor rekening, nomor handphone dan alamat email nasabah.

“Setelah melalui proses aktivasi, terdakwa menyatakan bahwa aplikasi tersebut aktif. Namun ternyata aplikasi aktif tersebut bukan milik korban, melainkan berada di handphone terdakwa,” kata jaksa.

Jumlah total transfer yang dilakukan oleh terdakwa dari Juni hingga November 2020 adalah sebesar Rs 1.455.150.000.

Artikel sebelumyaPemerintahan mandiri siap melaksanakan PPKM Darurat
Artikel berikutnyaPanglima TNI mengatakan TNI terus mendukung serangan vaksinasi