Beranda News Perlu: Perempuan di KPU-Bawaslu berkontribusi pada pemilu 2024 yang lebih inklusif

Perlu: Perempuan di KPU-Bawaslu berkontribusi pada pemilu 2024 yang lebih inklusif

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Perhimpunan Pemilihan Umum dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustiati mengatakan, penerapan keterwakilan perempuan sebagai anggota KPU dan Bawaslu pada level minimal 30 persen dapat memastikan keterwakilan perempuan yang lebih inklusif. pemilihan umum tahun 2024. .

“Kehadiran perempuan di badan penyelenggara pemilu dan semua pengalaman mereka dapat berkontribusi pada pemilu yang lebih inklusif. Bahkan diharapkan ini tidak hanya inklusif di kalangan perempuan, tetapi juga dalam arti yang lebih luas, misalnya di antara teman-teman penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan pemuda,” kata Ninis, sapaan akrab Khoirunnisa Nur Agustyati.

Hal itu disampaikannya saat menjadi konsultan dalam diskusi publik bertajuk “Laporan Publik Kesesuaian dan Kepatutan Calon Anggota KPU dan Bawaslu” yang disiarkan langsung di kanal YouTube Puskapol FISIP UI Jakarta, Minggu.

Perlu dicatat bahwa pemilu yang inklusif adalah pemilu yang dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara yang memiliki hak pilih. Kesempatan yang sangat luas ini berarti tanpa membedakan suku, agama, ras, gender, penyandang disabilitas bahkan status sosial dan ekonomi setiap warga negara Indonesia.

Selain itu, Ninis juga meyakini bahwa keterwakilan perempuan di lembaga pemilu dapat membawa sejumlah hasil positif lainnya.

Pertama, menurut dia, perempuan anggota CPU dan Bawaslu bisa melindungi suara pemilih perempuan. Menurutnya, berkat pengawalan ini, perempuan anggota CPU dan Bawaslu bisa menjamin suara perempuan dalam pemilu tidak akan dipalsukan.

Selain itu, tambah Ninis, keterwakilan perempuan juga akan berdampak pada peningkatan partisipasi perempuan di lembaga politik lainnya. Menurutnya, keterwakilan perempuan di CPU dan Bawaslu akan menginspirasi perempuan lain untuk ikut mengisi posisi strategis di lembaga politik lain.

“Ketika seorang wanita berada di posisi ini, dia menginspirasi wanita lain,” kata Ninis.

Artikel sebelumyaCPI meminta Komisi II untuk menciptakan keterwakilan perempuan di CPU-Bawaslu
Artikel berikutnyaJPPR: Soal due diligence anggota KPU-Bawaslu jangan bias gender