Beranda Hukum Polisi Bogor menahan seorang wanita penjual barang kadaluarsa

Polisi Bogor menahan seorang wanita penjual barang kadaluarsa

Polisi menemukan barang bukti berupa 10 kantong makanan dan minuman tercemar.

Sibinong, Bogor (ANTARA) – Bareskrim Polrestabes Bogor menangkap seorang pedagang kadaluwarsa di kawasan Chileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tersangka seorang wanita berinisial NR (27).

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tersangka N.R. memperdagangkan barang-barang yang diduga rusak, cacat, tercemar, kadaluarsa, dan beberapa di antaranya tidak diberi label pilihan makanan, minuman, dan deterjen,” kata Kapolres Bogor AKBP Harun saat jumpa pers pengungkapan kasus pidana. , di Mapolres Chibinonga, Bogor, Rabu.

Dia mengatakan, penyelidikan dimulai dengan pengumuman publik tentang keberadaan toko di daerah Chileungsi, tempat penjualan barang kadaluarsa beberapa waktu lalu.

Berdasarkan laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan.

Di kepolisian N.R. mengaku membeli barang tersebut dari oknum pekerja ritel di Kabupaten Bekasi berinisial Y.P., yang kini telah meninggal dunia.

Barang yang diketahui rusak dan kadaluarsa merupakan sisa-sisa banjir yang melanda pengecer YP.

“Jadi cara YP menginformasikan kepada pihak berwajib bahwa (barang) musnah karena bekas banjir. Tapi dia malah menjual HP. HP membeli barang tersebut dalam tiga truk, dikemas dalam kantong plastik dan karung, dengan harga Rp 75 juta,” kata Harun.

Setelah NR membeli barang-barang tersebut, tersangka membersihkan barang-barang yang rusak dan kadaluarsa tersebut. Kemudian mereka menjualnya kepada warga tanpa menunjukkan kondisi barang yang sebenarnya.

“NR membeli barang untuk YP melalui WhatsApp dengan pembayaran dimuka sebesar Rs 25 juta. Setelah sebagian barang terjual, tersangka NR membayar sisa pembelian kepada YP selaku penjual sebesar Rp 50 juta,” ujarnya lagi.

Dari tangan tersangka, polisi menemukan barang bukti berupa 10 bungkus makanan, minuman yang rusak dan kadaluarsa, berbagai merek, seikat rekening koran milik tersangka, dan lain-lain. Tersangka N.R. juga tuntutan yang diajukan berdasarkan bagian (1) Pasal 62 UU no. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

“Hukumannya maksimal lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar,” ujarnya.

Artikel sebelumyaPakar Hukum Tata Negara Dukung Penguatan Kelembagaan DPD RI
Artikel berikutnyaKepala Desa Tulungagunga itu dituntut denda Rp 12,5 juta karena melanggar prosedur.