Beranda Hukum Polisi Gresica Mengungkap Praktik Suntik Pemutih Ilegal

Polisi Gresica Mengungkap Praktik Suntik Pemutih Ilegal

Pelaku mengaku mempelajari sendiri penyuntikan YouTube.

Gresik, Jawa Timur (ANTARA) –

Aparat Kepolisian Resor (Polres) Gresik, Polda Jawa Timur, membongkar sindikat suntik pemutih ilegal atau tanpa izin di sebuah gedung berlantai dua di kawasan Jalan Pasar Sit Sampin.

Kapolsek AKBP Gresik Mochamad Nur Azis mengatakan, Sabtu di Gresica, hasil dari upaya tersebut, polisi Gresik menangkap seorang penjahat bernama Miftahul Mahin (34), remaja kesepian dari desa Sit Sampin di distrik Sit Sampin.

Dia mengatakan, kegiatan ilegal para penjahat itu terungkap berdasarkan informasi publik, dan penyelidikan dilakukan oleh Bareskrim Sat Sampean Polri di bawah pimpinan Kepala Bareskrim Aipda Hari Vartono.
“Pelaku kami tangkap pada Kamis, 30 September 2021, di tempat praktik, dan saat digerebek polisi, ditemukan sedang melayani klien dengan menyuntikkan vitamin C dan kolagen,” kata Nur Azis.
Saat menarik pelanggan, modus penyerang adalah menawarkan layanan injeksi kepada orang kulit putih melalui utas pesan WhatsApp, sehingga menarik wanita muda hingga ibu rumah tangga yang ingin menjadi kulit putih.
“Di depan penyidik, pelaku mengaku pernah mempelajari suntikan otodidak di YouTube. Kemudian dia membeli obat-obatan dan peralatan medis melalui Internet, ”katanya.
Menurut Kapolsek, pelaku terpaksa membuka praktik ilegal mulai April 2021 karena menunggak pinjaman online (pinjol), dan penghasilan utamanya dari potong rambut tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
“Saya berhutang, Pak.” – kata Makhin dalam sebuah wawancara dengan wartawan.
Para penyerang juga tertangkap menggunakan produk farmasi yang tidak diizinkan untuk didistribusikan.
Dalam praktiknya, pelaku beraksi sendiri dan menawarkan 5 paket suntik putih, di antaranya paket premium Rs 750.000, paket perak Rs 1 juta, paket platinum Rs 1,5 juta, dan paket emas Rs. 2,5 juta rupee dan berlian dengan harga 3,5 juta rupee.
“Paket tertinggi adalah berlian. Pelaku mencampur glutax putih rekombinasi dengan NaCl cair kemudian disuntikkan ke tubuh melalui infus,” ujarnya.
Perbuatan pelaku melanggar pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Pelayanan Kesehatan atau pasal 78 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
Pasal ini menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja menggunakan suatu alat, cara, atau sarana lain untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan bahwa orang tersebut adalah seorang dokter yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter adalah suatu perbuatan melawan hukum.
“Untuk ancaman hukuman – maksimal 10 tahun penjara,” ulangnya.
Nur Azis mengimbau masyarakat untuk menahan godaan melakukan suntik putih tanpa izin resmi, karena dikhawatirkan bisa mengancam kesehatan.

Artikel sebelumyaPenyidik ​​Kejaksaan Tinggi Sumsel Tunda Pemeriksaan Saksi Marwa Miach
Artikel berikutnyaPunchak Bogor akan tetap beroperasi dalam mode ganjil genap hingga Kementerian Perhubungan mengeluarkan kebijakan.