Beranda Hukum Polisi masih mengoordinasikan pemindahan tersangka Munarman ke kejaksaan

Polisi masih mengoordinasikan pemindahan tersangka Munarman ke kejaksaan

Saya pikir ini masalah waktu.

Jakarta (ANTARA) – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih mengoordinasikan pemindahan atau pemindahan tersangka dan barang bukti dalam kasus dugaan tindak pidana terorisme mantan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) Munarman ke Kejaksaan Agung (JPU).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan dalam jumpa pers di Kantor Humas Polres Jakarta Selatan, Rabu, berkas perkara Munarman sudah dibuka ke publik. lengkap (P21) oleh jaksa.

Setelah pengumuman selesai, kata Rusdi, penyidik ​​akan melanjutkan ke tahap kedua, yakni pelimpahan tersangka dan barang bukti.

“Kapan pemindahannya, masih disepakati antara penyidik ​​dan kejaksaan. Saya kira tinggal menunggu waktu saja,” kata Rusdi.

Rusdi menegaskan bahwa proses tersebut dinyatakan selesai untuk dipertimbangkan lebih lanjut di pengadilan. “Tunggu,” kata Rusdi lagi.

Menurut Rusdi, tidak ada masalah dengan penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan, prosesnya masih dikoordinasikan dengan kejaksaan mengenai kapan penyerahan tersangka dan barang bukti.

“Ini sedang dikoordinasikan, penyidik ​​sendiri sudah siap, tinggal koordinasi dengan kejaksaan kapan bisa menerima pengajuan tahap kedua,” kata Rusdi.

Sebelumnya, pada Juli 2021, kejaksaan meminta Departemen Kontraterorisme Polri 88 menuntaskan kasus Munarman, juga memeriksa mantan Ketua IFF Habib Rizik Shihab dan beberapa orang lainnya.

Sesuai petunjuk JPU, selain Rizik, diperlukan keterangan tambahan, yakni keterangan saksi lain yakni S.L. (Shobri Lubis) dan H.U (Haris Ubaidillah), serta saksi-saksi lainnya yang ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) saat Terorisme di Sikeas.

Menurut dia, tahap pertama penyerahan kasus ke kejaksaan terhadap tersangka Munarman terjadi pada 7 Juni 2021.

Dalam perjalanan kasus Munarman, pada 24 Juni 2021, penyidik ​​dari Regu Antiteror Polri menerima berkas Tahap I atau P-19 untuk dilengkapi penyidik.

Setelah perkara dilimpahkan karena dianggap tidak lengkap, penyidik ​​memenuhi syarat P-19, terutama alat bukti fisik, termasuk pemeriksaan saksi-saksi tersebut di atas.

Munarman ditangkap oleh Satuan Khusus 88 Polri pada Selasa (27 April) di rumahnya di Pamulang, Tangerang Selatan.

Penangkapan mantan Sekjen FPI itu terkait dengan aksi kesetiaan di Makassar, Jakarta, dan Medan.

Munarman diduga menggerakkan orang untuk melakukan aksi terorisme, memiliki niat buruk untuk melakukan aksi teroris dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Menyusul penangkapan Munarman, Skuad 88 Antiteror menangkap tiga mantan perwira IFF di kota Makassar, Selasa (5 Mei).

Selain itu, Mabes Polri Desus 88 Antiteror bersama Tim Polda Sulsel juga menggerebek eks Mabes FPI di Jalan Sungai Limboto, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (4 Mei).

Petugas mengamankan sejumlah barang, seperti kardus cokelat, papan nama, dan kantong plastik merah, termasuk spanduk berlogo dan nama FPI.

Penggeledahan itu terkait dengan aksi bunuh diri yang dilakukan sepasang suami istri di gereja katedral Makassar pada Minggu (28 Maret 2021).

Pelaku bom bunuh diri diketahui terlibat dalam kelompok penelitian di Vila Biru Mutiara yang berafiliasi dengan Jamaah Asharut Daulah (JAD).

Artikel sebelumyaCSIS: Investasi di Riset Dibutuhkan untuk Memindahkan Indonesia ke 2045
Artikel berikutnyaLemhannas mengambil pendekatan "kekuatan lembut" membuat penelitian