Beranda Hukum Polisi mengungkap jual beli mobil antara Indra Kenz dan Rudy Salim

Polisi mengungkap jual beli mobil antara Indra Kenz dan Rudy Salim

Interogasi R.A. terkait dengan akuisisi I.K. mobil mewah.

JAKARTA (ANTARA) — Penyidik ​​Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri memeriksa Rudy Salim terkait transaksi jual beli mobil dengan Indra Kenz, yang diduga melakukan penipuan binary options pada aplikasi Binomo.

Saat diaudit, ternyata Indra Kenz hanya membeli satu mobil Tesla dari Prestige Images Motorcars milik Rudy Salim.

“Penyelidikan RA terkait pembelian mobil mewah kakak IK yang dibeli dengan harga Rp 1,350 miliar,” kata Gatot Repley, Kepala Bagian Penerangan Masyarakat (Kabagpenum) Humas DPR RI. Komisaris Polisi. Handoko dalam jumpa pers itu diamati secara praktis dari Jakarta, Jumat.

Sedangkan menurut Gato, dua mobil mewah lainnya, Rolls Royce dan Toyota, tidak dibeli untuk kepentingan konten YouTube mereka.

“Rolls Royce dan Toyota dalam konten hanya untuk pembuatan konten,” kata Billy.

Hal yang sama diungkapkan Rudi Salim dan kuasa hukumnya usai dimintai keterangan pihak kepolisian dari pukul 10.00 WIB hingga 15.30 WIB.

“Total, satu Tesla terjual, yang disita,” kata Frank Hutapea, pengacara Rudy Taslim.

Penyidik ​​telah menyita aset Indra Kenz, salah satunya mobil Tesla di Medan.

Penyidik ​​telah menyita aset Indra Kenz dengan perkiraan jumlah nominal Rs 43,5 miliar dari total Rs 57,2 miliar yang disita. Aset tersebut antara lain mobil mewah, sejumlah gedung, apartemen, dan rekening bank.

Indra Kenz dijerat dengan beberapa pasal, yakni ayat (2) pasal 45 Gabungan Pasal 27 ayat 2 dan/atau ayat (1) pasal 45 A Gabungan ayat 1 pasal 28 UU No. Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terancam hukuman 6 tahun penjara.

Selain itu, pasal 3, pasal 5 dan pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan paling banyak Rp10 miliar, dan pasal 378 KUHP Federasi Rusia jo Pasal 55 KUHP Federasi Rusia, yang mengatur hukuman dalam bentuk penjara hingga 4 tahun.

Sebanyak 14 korban telah diperiksa dalam kasus ini. Berdasarkan laporan audit, korban mengalami kerugian sebesar Rp 25,6 miliar.

Artikel sebelumyaPemerintah Indonesia diminta untuk memitigasi konsekuensi dari perang Rusia-Ukraina
Artikel berikutnyaWakapolri meminta masyarakat tidak bergembira meski mendapat vaksin booster.