Beranda Hukum Polres Sukabumi mengungkap ratusan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan

Polres Sukabumi mengungkap ratusan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan

lebih dari 80 kasus berhasil diselesaikan

Sukabumi, Jawa Barat (ANTARA) — Divisi Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Bareskrim Polres Sukabumi berhasil mengungkap ratusan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada 2021-2022.

“Jumlah kasus yang kami identifikasi atau telusuri lebih dari 121 kasus selama setahun terakhir, melibatkan berbagai insiden kekerasan dan pelecehan,” kata Kapolsek PAP Satreskrim Sukabumi Iptu Bayu Sunarti, Minggu di Sukabumi.

Dari ratusan kasus yang ditangani pihaknya, Bayu mengatakan lebih dari 80 kasus berhasil diselesaikan, dengan pelaku divonis oleh Pengadilan Negeri PN Sukabumi.

Ia melanjutkan, akan ada dua kasus pada 2022 yang sangat terlihat, yakni dugaan Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di mana empat korban diperdagangkan ke wilayah Papua dan satu korban diperdagangkan di Arab Saudi. .

Semua korbannya adalah perempuan, yang usianya bisa disebut muda atau muda. Biasanya modus online dari trafiker ini ditujukan untuk para wanita yang membutuhkan pekerjaan. Dalam menjalankan aktivitasnya, para penjahat biasanya menggiurkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ditambah dengan upah yang tinggi.

Seperti empat perempuan korban THB asal Palabuhanratu yang diperdagangkan di Papua, mereka dikaruniai angin surga untuk bekerja sebagai pramusaji di sebuah kafe, namun kenyataannya mereka diperdagangkan dan dipaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK).

Sedangkan dalam kasus lain, seorang perempuan muda dari Kecamatan Sidahu menjadi korban dugaan pemindahan ke Arab Saudi, dimana selama bekerja di negara tersebut korban tidak pernah menerima gaji, bahkan makan dan minum pun sulit.

“Semua korban berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke keluarganya, namun dalam kasus ini masih kami kembangkan karena biasanya pelakunya berjejaring,” imbuhnya.

Selain THB, kasus lain yang cukup menonjol tahun ini adalah kasus non-aborsi dimana pihaknya menangkap tiga tersangka. Bayu mengatakan, insiden kekerasan terhadap anak masih sering terjadi, korban biasanya dianiaya dengan kekerasan.

Biasanya pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang terdekat, baik keluarga maupun orang-orang di sekitar korban. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk saling menjaga keberadaan satu sama lain, agar anak tidak menjadi korban kekerasan, karena dampaknya bagi para korban akan menjadi trauma yang berkepanjangan.

Artikel sebelumyaDPRD membentuk panitia anggaran khusus LKPJ Tahun 2021 untuk Kota Bogor.
Artikel berikutnyaTinjauan metrik: Partai politik perlu menjadi lebih baik untuk meningkatkan kepercayaan