Beranda Warganet PP IKABI Sebut Kematian Dokter Saat Pandemi Bisa Dicegah

PP IKABI Sebut Kematian Dokter Saat Pandemi Bisa Dicegah

Jakarta (ANTARA) – Perwakilan Persatuan Ahli Bedah Indonesia (PP IKABI) Dr Patrianev Darvis SpB KV mengatakan kematian dokter di masa pandemi COVID-19 memang bisa dicegah.

“Beberapa profesor kami telah meninggal karena COVID-19. Dia disiksa, tetapi sebenarnya itu bisa dicegah. Masalahnya adalah para politisi tidak mengerti apa itu epidemi dan apa itu penyakit. Jika mereka mengerti apa yang sedang terjadi, tidak akan ada peningkatan jumlah kasus yang begitu cepat, ”kata Patrianev dalam diskusi terkontrol di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan, penyakit yang disebabkan oleh COVID-19 dapat disembuhkan jika dikelola dengan baik, tetapi jika terjadi epidemi dan jumlah kasus tumbuh begitu cepat sehingga kapasitas fasilitas medis tidak mencukupi, maka akan menyebabkan banyak yang terinfeksi. orang akan terinfeksi. dibiarkan tidak diobati.

Patrianev membandingkan situasi di awal pandemi, ketika pekerja medis menggunakan peralatan minimal tetapi lebih sedikit dokter yang meninggal.

“Anehnya, sekarang kami bekerja dengan peralatan yang lebih canggih, tetapi dokter dan tenaga medis memiliki angka kematian yang tinggi,” tambahnya.

Pihaknya mencatat lebih dari 600 dokter meninggal saat memerangi pandemi. Bahkan pada Juli, jumlah kematian dokter mencapai 168 orang. Sedangkan pada puncak pandemi pada Januari 2021, jumlah dokter yang meninggal sebanyak 68 orang.

“Angka kematian dokter meningkat tajam pada Juli tahun ini, tiga kali lipat dibandingkan puncak gelombang pertama. Lima hingga enam dokter meninggal setiap hari di bulan ini. Belum lagi jika kita menghitung dokter gigi, tenaga medis dan lainnya,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa tidak hanya dokter umum yang terkena, tetapi semua dokter. Dokter juga tidak bisa mengibarkan bendera putih karena terikat dengan sumpah dokter dan Kode Etik Kedokteran.

“Dokter atau dokter gigi dalam praktik kedokteran berhak mendapatkan bantuan hukum jika menjalankan tugasnya sesuai dengan standar profesi dan prosedur operasi standar pasien dan keluarganya.

Dokter berisiko tinggi dari paparan virus yang berkepanjangan, terlalu banyak bekerja, terlalu banyak bekerja di tempat kerja, stigma, stigma, pelecehan verbal dan fisik, dan jam kerja yang panjang.

Dokter, lanjutnya, banyak yang meninggal karena ketidakmampuan menolak pasien, alat pelindung diri terbatas, pelacakan pasien terbatas, antigen berbayar dan tes PCR smear, dan pelacakan bahkan dalam pengaturan medis yang buruk.

Ia berharap perlindungan masyarakat diperlukan bagi para dokter yang telah meninggal, baik dokter ASN maupun dokter non-ASN yang menunjukkan empati dan simpati, serta negara harus serius memerangi COVID-19 dan tidak lagi mengganggu kesehatan dan perekonomian. *** 3 ** *

Artikel sebelumyaRektor ULM mendorong mahasiswa untuk memulai bisnis selama masih kuliah.
Artikel berikutnyaLulusan AKABRI divaksinasi 1991 warga Kalsel