Beranda Trending Rilis novel karya Todung Moole Lubis ingin seperti John Grisham

Rilis novel karya Todung Moole Lubis ingin seperti John Grisham

Jakarta (ANTARA) – Sebagai pembaca setia novel John Grisham, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Republik Islandia Todung Mula Lubis berniat menulis novel berdasarkan pengalamannya dalam berbagai kasus pengadilan selama lebih dari 30 tahun karir profesionalnya. menganjurkan.

“Saya memiliki obsesi menjadi penulis seperti John Grisham, saya selalu mengatakan itu. Ini adalah langkah awal untuk membawa pengalaman nyata saya di bidang ini sebagai praktisi pengacara ke panggung sastra, ”kata Todung dalam presentasi buku. novel pertama “Menunda Kekalahan”, dikutip dari siaran resminya, Sabtu.

“Saya ingin menulis novel yang lebih populer yang lebih mudah dibaca dan lebih mudah dicerna. Semoga mendapat tempat di kancah sastra Indonesia,” ujarnya.

Todung telah menulis banyak buku tentang hukum ekonomi, hak asasi manusia dan kebijakan hukum. Disertasinya, Mencari Hak Asasi Manusia: Dilema Hukum dan Politik Indonesia Orde Baru 1966-1990, menjadi pedoman hak asasi manusia karena merupakan buku hak asasi manusia pertama yang diterbitkan pada era Orde Baru yang menolak hak asasi manusia.

Delay of Defeat terinspirasi dari pengalaman Todung sebagai pengacara kasus Bali Nine, Muran Sukumaran dan Andrew Chan, yang divonis bersalah karena penyelundupan narkoba dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Penulisan novel ini juga merupakan cerminan dari pengalamannya dalam perjuangan menghapuskan hukuman mati selama ini.

“Pendidikan hukum bisa melalui teater, drama atau novel. John Grisham menulis banyak kasus pengadilan dalam bentuk novel, yang menurut saya cukup banyak mereka baca. Ini bagian dari proses pendidikan hukum yang menurut saya tidak konvensional,” kata Todung.

“Novel Kekalahan Ditangguhkan bisa menjadi bagian dari proses pendidikan hukum, setuju atau tidak setuju dengan proses hukuman mati, karena pada akhirnya kembali ke rakyat.”

Perilisan “Delaying Defeat” merupakan salah satu momen spesial Todung tahun ini. Novel ini berhasil diselesaikan di tengah kiprahnya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Islandia yang diembannya sejak 2018.

Novel ini bercerita tentang dua pemuda yang ditangkap karena mengangkut heroin dalam perjalanan pulang dari Bali ke Australia. Bersama tujuh pemuda lainnya, mereka diadili di Denpasar. Dua pemuda dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan kemudian dikukuhkan oleh Mahkamah Agung. Pemerintah Australia telah meminta Topan Luhur, seorang pengacara terkenal yang biasanya menangani sengketa bisnis perusahaan, untuk melakukan sidang terbuka pada langkah selanjutnya. Ia juga ditanya karena dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang pernah menolak hukuman mati.

Dia ragu-ragu dan menghadapi dilema. Dia melarang narkoba karena dia tahu bahaya narkoba sebagai musuh nomor satu di Indonesia, tetapi dia juga menyadari bahwa hak untuk hidup itu mutlak dan tidak bisa dilanggar.

Hukuman berat harus diterapkan, tetapi tanpa merampas hak mereka untuk hidup. Butuh waktu hampir sebulan baginya untuk memutuskan. Topan memerangi kasus ini selama sekitar delapan tahun, dan dinamika litigasi di daerah ini tidak pasti.

Artikel sebelumyaPara ahli berharap pidato presiden menyoroti manfaat hukum bagi masyarakat
Artikel berikutnyaTroubadour: semangat baru Irwin Hardy