Beranda Warganet Rumah Sakit Khusus di Kudus belum menerima klaim perawatan pasien COVID-19

Rumah Sakit Khusus di Kudus belum menerima klaim perawatan pasien COVID-19

Menunda klaim terlalu lama juga mempengaruhi arus kas rumah sakit.

Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) – Sejumlah rumah sakit khusus penanganan COVID-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, belum menerima klaim pembayaran pengobatan pasien virus corona, meski sudah diajukan sejak Oktober 2020.

“Kami telah mengajukan aplikasi untuk dipertimbangkan pada akhir 2020 pada Oktober 2020. Termasuk klaim tahun 2021, kami juga mengajukan periode Januari hingga Mei 2021 dengan nilai klaim sekitar Rp 18 miliar,” kata Direktur Aisyiyah. Rumah Sakit Kudus, salah satu rumah sakit khusus di Indonesia. Kamis Putih.

Sementara itu, hingga Oktober 2020, kata dia, pihaknya sudah menerima ganti rugi sebesar Rp 5 miliar. Namun, keterlambatan pembayaran klaim yang terlalu lama juga mempengaruhi arus kas rumah sakit.

Ia berharap pembayaran klaim direncanakan karena rumah sakit swasta juga membutuhkan pemasukan dan menjaga arus kas tetap stabil. Sedangkan biaya operasional sehari-hari tidak dapat ditangguhkan.

Untuk menutupi gap biaya operasional, selain menutupi klaim BPJS Kesehatan sekitar Rp 3 miliar per bulan, juga ada dana bantuan keuangan rumah sakit.

Begitu pula dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Qudus, yang menyatakan bahwa biaya pengobatan pasien COVID-19 selama beberapa bulan di tahun 2020 belum dibayarkan, dan kini sudah masuk Juli 2021.

Direktur RSUD Loekmono Hadi Qudus Abdul Aziz Achiar berharap dana tersebut segera dicairkan, meski saat ini masih memiliki dana cadangan yang berasal dari sisa dana tahun lalu hingga Rp 60 miliar.

“Menurut perkiraan kami, solvabilitas kami masih mencukupi hingga Agustus 2021. Karena kami juga memiliki sumber pendapatan lain, seperti klaim BPJS Kesehatan senilai sekitar Rs 6 miliar sebulan, serta layanan umum untuk pasien, karena ada dua lagi bangsal umum, bangsal psikiatri, bangsal nifas dan bersalin dan PICU- NIKU yang tidak bisa dijadikan isolator korona,” ujarnya.

Untuk biaya operasional bulanan, dia mengatakan memang lebih tinggi dari sebelumnya karena sekarang ada pergantian bangsal setelah lima bangsal ditutup untuk dipindahkan ke bangsal khusus pasien virus corona, total delapan bangsal.

Solusi ini secara otomatis mengubah aliran input dan output, sehingga meningkatkan beban biaya operasional. Kemudian peralatan tambahan seperti kipas ditambahkan, yang meningkatkan biaya.

Belum lagi biaya keselamatan tenaga medis dan petugas lainnya yang harus memakai alat pelindung diri (APD) setiap hari yang nilainya lebih dari Rp 10 miliar, kata Abdul Aziz Achyar.

Artikel sebelumyaBBKSDA Papua melepas 46 burung endemik
Artikel berikutnyaGubernur Minta Seluruh Jabar Laksanakan PPKM Darurat