Beranda Warganet Satgas meminta pihak rumah sakit menyesuaikan ritme kerja tenaga medis agar tidak...

Satgas meminta pihak rumah sakit menyesuaikan ritme kerja tenaga medis agar tidak cepat lelah

dapat bekerja dengan ritme manusia

Jakarta (ANTARA) –

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 meminta rumah sakit menyesuaikan ritme kerja tenaga kesehatan di tengah kasus yang terus bertambah.
“Rumah sakit didorong untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat bekerja dengan kecepatan yang manusiawi untuk mencegah kelelahan,” kata Viku Adisasmito, Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19, dalam konferensi pers yang diadakan online di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terus berupaya memastikan tersedianya sarana dan prasarana pendukung baik untuk mengoptimalkan pelayanan pasien maupun melindungi tenaga kesehatan yang bertugas.
“Misalnya menyediakan alat pelindung diri level 1, 2 dan 3 tergantung kemungkinan besar kontak dengan kasus positif,” ujarnya.

Untuk itu, Wiku meminta seluruh masyarakat, khususnya tenaga medis yang bekerja di rumah sakit, untuk lebih berhati-hati dalam disiplin menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan pedoman profesi yang telah ditetapkan.
Saat ini, menurut Viku, peningkatan jumlah kasus COVID-19 telah melampaui puncak lonjakan gelombang pertama.
Dia menjelaskan, pada puncak kasus pertama, penambahan kasus mingguan terbesar sebanyak 88.000 kasus, sedangkan pekan lalu penambahan kasus positif mencapai lebih dari 170.000 kasus, hampir dua kali lipat puncak lonjakan pertama kasus.
“Yang perlu diwaspadai ketika jumlah kasus mulai meningkat adalah tingkat perawatan di rumah sakit,” katanya.

Per 7 Februari 2022, tingkat hunian tempat tidur (tingkat hunian tempat tidur/BOR) secara nasional mencapai 24,77 persen per .
Viku mencatat ada empat provinsi yang persentase BOR-nya lebih tinggi dari angka nasional, yakni DKI Jakarta 66 persen, Bali 45 persen, Banten 39 persen, dan Jawa Barat 32 persen.

Artikel sebelumyaMemasak odon-odon
Artikel berikutnyaTren kasus masih dipantau untuk menentukan gelombang ketiga COVID-19.