Beranda Nusantara Warga Sotek Kaltim mengusulkan dibuat cagar alam

Warga Sotek Kaltim mengusulkan dibuat cagar alam

Dalam konsep taman Kehati, warga ingin melestarikan kearifan dan budaya lokal.

Penajam, Kaltim (ANTARA) – Kepala Desa bersama warga Desa Sotek di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), akan mengundang pihak terkait untuk menetapkan lahan warga sebagai Taman Keanekaragaman Hayati. Kehati).

“Kami sudah berkonsultasi dengan warga pemilik lahan dan sepakat lahan tersebut akan dijadikan taman Kehati, agar lahan tersebut bermanfaat bagi penduduk dan sebagai objek penelitian,” ujar Kepala Desa Sotek M. Harianto di Penajam. Kalimantan Timur, Kamis.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengirimkan surat kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam di Wilayah Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai prasyarat pendirian Taman Keanekaragaman Hayati.

Menurut Harianto, total luas lahan milik beberapa warga Desa Sotek yang akan mereka tawarkan untuk disewakan untuk Taman Kehati lebih dari 10 hektare (ha). Saat ini lahan tersebut ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan lokal, bahkan ada tanaman endemik Kalimantan seperti meranti dan linden.

Ada sekitar 15 tanaman buah asli seperti durian, eli, lahung, kelantungan, langsat, kapul dan ihau, yang mereka tanam bertahun-tahun lalu dan masih berbuah.

Harianto mengatakan, lahan yang diusulkan warga untuk dijadikan Taman Kehati ini sebelumnya merupakan kampung yang dihuni warga sejak 1913. Desa yang sebelumnya ramai menjadi sepi karena penduduk pindah lebih dekat ke jalan provinsi, yang dibangun pada tahun 1993.

Meski lahan tersebut sudah beberapa tahun tidak digunakan, namun lahan tersebut masih produktif karena berbagai buah-buahan lokal yang pernah ditanam warga justru terus tumbuh dan berkembang. Berbagai jenis hewan liar sering terlihat seperti burung enggang, monyet, kucing batu, rusa dan reptil.

“Dalam konsep Taman Kehati ini, warga ingin melestarikan kearifan dan budaya lokal, misalnya kalau ada bangunan harus di atas panggung, karena dulu budaya kita adalah rumah panggung,” kata Harianto.

Artikel sebelumyaPemulangan 40 PMI asal NTB dari Malaysia terungkap bahwa mereka adalah korban TPPO.
Artikel berikutnyaMenkominfo Instruksikan Sivitas Proaktif Dukung Penerapan Kebijakan PPKM Darurat Jawa Bali