Beranda Warganet Yogyakarta Tunjukkan Metode Tes COVID-19 Lansia dan Ramah Anak

Yogyakarta Tunjukkan Metode Tes COVID-19 Lansia dan Ramah Anak

Kami akan memperkenalkan metode baru

Yogyakarta (ANTARA) – Pemerintah Kota Yogyakarta berencana menerapkan metode tes COVID-19 yang dianggap lebih nyaman bagi anak-anak dan lansia, dengan harapan dapat mempertahankan lebih banyak tes sebagai langkah penanganan kasus.

“Teknik swab PCR dengan pengambilan sampel hidung dan mulut terkadang membuat banyak orang tidak nyaman, terutama anak-anak dan orang tua. Oleh karena itu, kami akan memperkenalkan metode baru,” kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Rabu di Yogyakarta.

Metode baru, katanya, menggunakan sampel air liur agar lebih nyaman bagi orang tua dan anak-anak.

“Dengan cara ini kami masih bisa melakukan pengujian yang lebih baik. Rencananya minggu depan akan kami presentasikan,” ujarnya.

Haryadi mengatakan tracking dan testing di Kota Yogyakarta masih perlu ditingkatkan untuk memastikan penularan COVID-19 berkurang dan dapat dikendalikan.

Pada Rabu, tiga kasus baru dilaporkan di Kota Yogyakarta, empat pasien sembuh atau menjalani isolasi, dan tidak ada pasien yang meninggal. Dengan demikian, ada 103 kasus aktif di kota tersebut.

Sementara itu, vaksinasi warga Kota Yogyakarta, lanjut Haryadi, telah selesai dilakukan. Pada 7 Oktober, Yogyakarta sepenuhnya mengumumkan pengenalan vaksin (dosis pertama).

“Termasuk lansia. Mereka mendapat prioritas lebih awal saat program vaksinasi dimulai. Jadi saya berani katakan vaksinasi untuk lansia 100 persen,” ujarnya.

Terkait kebutuhan pengobatan atau perawatan bagi warga yang dinyatakan positif COVID-19, dua shelter tetap beroperasi di Yogyakarta, yakni Shelter Tegalrejo dan Shelter Gemawang.

“Jika ada warga yang terkonfirmasi positif maka akan langsung disarankan untuk menjalani perawatan di shelter guna meminimalisir kemungkinan penularan di keluarga dan wilayahnya,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 di Jakarta, Selasa. Yogyakarta, Pahlawan Poervadi.

Shelter Tegalrejo yang mampu menampung 84 pasien, saat ini hanya menerima lima pasien, sedangkan Shelter Jemavang tidak lagi menerima pasien, namun tetap standby jika diperlukan.

Artikel sebelumyaMenaker minta optimalisasi transformasi BLK untuk pengentasan kemiskinan
Artikel berikutnyaMuseum Shiginja menghidupkan permainan panggung tradisional ke Jambi